Bagaimana Cara Memilih Pemimpin Terbaik Untuk Indonesia?

0
160
views
jokowi dan prabowo

Memilih Pemimpin Terbaik untuk Indonesia

Halo,

Selamat pagi, siang, petang, dan malam. Aku tidak tahu jam berapa tepatnya kau sedang membaca artikel ini. Jadi ku sapa saja disetiap waktu.

Diawal paragraf ini saya ingin mengucapkan terima kasih karena telah menjadi teman maupun saudara sebangsa dan setanah air. Karena jika kita bukan saudara, mungkin akan sulit untukmu menemukan tulisan ini dengan bahasa yang sama dengan bahasamu sehari-hari.

Mendekati pesta demokrasi di tahun 2019 nanti, kita telah diperlihatkan perang tagar yang sering muncul di timeline kita sehari-hari.

Mulai dari kata orang kantor di pagi hari, dilanjutkan berita siang dan kabar petang di televisi, kemudian ditutup dengan malam yang menghantui media sosial sebelum tidur seakan-akan tidak ada habisnya untuk diperbincangkan.

Media sosial paling parah. Dimana setiap orang tiba-tiba menjadi manusia yang merasa paling ngerti dan paling melek politik.

Tidak ada salahnya membicarakan hal ini. Namun, mohon untuk tetap menjaga rasa cinta kita sebagai saudara. Euforia akan pesta demokrasi mari kita tunda dulu toh visi dan misi capres dan cawapres belum kita ketahui.

Lantas, bagaimana cara memilih pemimpin terbaik untuk Indonesia?

Sejauh ini calon yang disediakan di pemilu nanti, keduanya sudah sangat baik. Pemilihan ini bukanlah tentang siapa yang harus jadi pemimpin berikutnya, namun tentang Indonesia yang harus semakin menjadi lebih baik.

Siapapun pemimpin terpilih untuk Indonesia nanti, adab yang tepat adalah mendoakan kebaikan pemimpin dan masyarakatnya.

Sebisa mungkin jauhi sikap yang tidak baik. Misalnya seperti yang kita jumpai akhir-akhir ini, yang tanpa sadar sudah saling menghujat dan menjelekan saudara kita sendiri.

Padahal sebagai seorang muslim, Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bagaimanakah sikap yang benar sebagai masyarakat.

Semoga dengan tulisan yang sederhana ini, kita bisa meningkatkan kualitas diri kita sebagai masyarakat yang semakin beradab dengan akhlak baik.

 

Ganti Kualitas Rakyat!

Diantara tagar-tagar yang saling menjatuhkan satu sama lain, ternyata muncul sedikit kaum minoritas dengan mebawa tagar yang bagiku sangat menarik.

Ya. Mungkin sudah saatnya untuk menunjukan seharusnya masyarakat Indonesia yang baik ini berada di posisi yang mana.

#2019GANTIKUALITASRAKYAT

Aku rasa sah-sah saja mendeklarasikan diri dengan tagar #2019GantiPresiden maupun #Jokowi2Periode. Ini adalah bentuk suka cita masyarakat Indonesia menyambut pesta demokrasi tahun depan.

Saya sangat mengapresiasi hal ini.

Tapi, alangkah baiknya jika tidak saling menjatuhkan satu sama lain. Silahkan gunakan tagar itu dengan membawa tagar #2019GantiKualitasRakyat.

Sebagai masyarakat kita harus tetap balance. Kamu boleh mengkritik siapa saja, tapi mohon dan tolonglah agar memberikan masukan yang membangun.

Maaf. Mohon jangan cuma nyinyir saja. 🙂

Tentunya jika kamu adalah masyarakat yang beradab, sudah sepantasnya untuk saling menghargai satu sama lain. Apalagi jika kamu adalah seorang muslim, sudah sepatutnya kita memberikan contoh yang baik dalam menghadapi pemilu yang akan datang.

Ingat! Jangan malah menjatuhkan sesama saudara muslim kita.

 

Ganti Kualitas Masyarakat Mulai Dari Diri Sendiri

Menuju Indonesia yang lebih baik, saya ingin mengajak teman-teman semua untuk mengganti kualitas masyarakat mulai dari diri sendiri. Mari untuk lebih menerima masukan, kritik dan saran.

Mohon untuk melihat cerminan dari diri ini. Karena pemimpin kita nanti sama seperti jodoh kita kelak, ia adalah sosok yang sesungguhnya mirip denganmu.

Seorang Pemimpin adalah Cerminan dari Rakyatnya

Seorang pemimpin sesungguhnya adalah cerminan dari rakyatnya. Jika kualitas rakyatnya jelek, maka pemimpin kita juga jelek. Namun, apabila kualitas orang-orangnya baik, tentu pemimpinnya juga akan baik.

Masyarakat kita sampai hari ini masih banyak yang senang berhutang dan tidak jarang yang jatuh pada riba. Lalu, apakah kita pantas menyalahkan jika pemimpin negeri ini juga mengambil keputusan dengan berhutang?

Terkadang kita sebagai masyarakat tidak sadar sering menyalahkan Presiden. Siapapun itu pemimpinnya selalu saja akan dianggap salah.

Mereka menjadi alasan atas kegagalan dan kerusakan yang terjadi di negeri ini. Namun, kenapa kita malah lupa untuk mengintrospeksi diri sebelum menyalahkan?

Sekali lagi; Yang patut dipahami, sebenarnya setiap pemimpin adalah cerminan dari rakyatnya.

Allah Ta’alla berfirman,

Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar Ra’du [13] : 11)

Sebelum kita memilih presiden kita nanti, maka alangkah baiknya tentu dengan merubah kualitas dari diri ini terlebih dahulu.

Apabila kualitas diri ini sudah baik, maka tentu kita akan mendapatkan kualitas pemimpin yang baik pula.

 

Kewajiban Memilih Pemimpin

Baik. Sekarang kita masuk pada kewajiban kita sebagai warga negara.

Saya rasa ini selingan saja. Masyarakat Indonesia sudah sangat peduli dengan bangsanya, maka saya rasa tidak akan ada golput lagi kali ini.

Maaf. Beberapa orang mungkin masih saja ada yang berfikiran bahwa siapapun presiden yang terpilih, tidak akan merubah nasib apa-apa padanya. Karena itu orang-orang ini akhirnya memilih untuk tidak memilih.

Apakah memilih untuk tidak memilih ini sudah sikap yang benar?

Hmm..

Tentu saja tidak boleh!

Mungkin memang benar bahwa pemilu ini bukanlah metode yang tepat untuk memilih pemimpin dalam islam. Namun, sebagai warga negara kita wajib memberika suara. Ini adalah resiko hidup di negara yang memilih sistem demokrasi.

Satu demi satu suara akan mewakili perubahan yang akan terjadi di masyarakat. Tentu saja dengan harapan agar mendapatkan pemimpin yang terbaik.

 

Negeri Tanpa Pemimpin Bagai Sebuah Kapal Tanpa Nahkoda

Ada banyak istilah yang bisa digunakan untuk sebuah negeri untuk mengungkapkan ketiadaan seorang pemimpin disana.

Salah satunya adalah bagaikan sebuah kapal tanpa nahkoda yang kapan saja bisa karam.

Pada baris kali ini aku ingin mencoba mengajakmu terbang jauh ke masa lalu.

Dahulu kala ada sebuah bangsa dan kaum yang sempat kehilangan arah dan tujuan. Selama bertahun-tahun mereka terombang-ambing dalam penjajahan dan penindasan.

Sampai Allah menghadiahkan seorang pemimpin untuk bangsa ini.

Ya. Allah begitu baik.

Allah telah menghadirkan musa untuk menyelamatkan bangsa ini dari keterpurukan.

Kisah ini begitu populer bukan?

Dan dari sini tentu kita telah mengetahui bahwa betapa pentingnya sebuah negeri dengan pemimpin.

Kita juga bisa melihat sejarah negara kita.

Soekarno?

Ya. Tanpa proklamasi kemerdekaan yang dikumandangkan beliau, tentu saja bisa jadi sampai hari ini kita belum merdeka.

Dan tentu saja Allah begitu baik telah menghadiakan pemimpin untuk negeri ini.

Sampai hari ini, patut kita syukuri karena masih ada yang menjadi pemimpin di Indonesia. Semoga kita senantiasa bisa menjaga nikmat di negeri yang damai.

Saya ingin mengajak teman-teman pembaca agar tetap tenang dan menjaga kedamaian. Mohon untuk bersiap diri terhadap siapapun yang terpilih menjadi presiden nanti. Siapapun yang menang di pemilu nanti tentu wajib kita taati.

(Baca Juga: Hijrah Dari Keburukan Kepada Kebaikan)

 

Taat Pada Pemimpin Terpilih

Tentu saja siapapun pemenang pemilu nanti kita wajib untuk taat.

Siapapun pemenangnya maka wajib bagi seorang muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa) dalam perkara yang ia senangi dan ia benci kecuali apabila diperintah kemaksiatan. Apabila diperintah kemaksiatan maka tidak perlu mendengar dan taat.

Lagi pula pemimpin terpilih nanti adalah cerminan dari masyarakatnya. Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan,

“Sesungguhnya di antara hikmah Allah Ta’ala dalam keputusan-Nya memilih para raja, pemimpin dan pelindung umat manusia adalah sama dengan amalan rakyatnya bahkan perbuatan rakyat seakan-akan adalah cerminan dari pemimpin dan penguasa mereka.”

“Jika rakyat lurus, maka akan lurus juga penguasa mereka. Jika rakyat adil, maka akan adil pula penguasa mereka. Namun, jika rakyat berbuat zholim, maka penguasa mereka akan ikut berbuat zholim.”

“Jika tampak tindak penipuan di tengah-tengah rakyat, maka demikian pula hal ini akan terjadi pada pemimpin mereka.”

“Jika rakyat menolak hak-hak Allah dan enggan memenuhinya, maka para pemimpin juga enggan melaksanakan hak-hak rakyat dan enggan menerapkannya.”

“Jika dalam muamalah rakyat mengambil sesuatu dari orang-orang lemah, maka pemimpin mereka akan mengambil hak yang bukan haknya dari rakyatnya serta akan membebani mereka dengan tugas yang berat.”

“Setiap yang rakyat ambil dari orang-orang lemah maka akan diambil pula oleh pemimpin mereka dari mereka dengan paksaan.”

Ya. Sekali lagi memang benar. Pemimpin adalah cerminan dari rakyatnya sendiri.

Kapan saja mungkin kita bisa mendapatkan pemimpin yang zalim. Namun, tentu saja mungkin karena kita telah bertindah zalim juga.

 

Apakah Kita Harus Taat Pada Pemimpin yang Zalim?

Sebagai orang muslim tentu kita mengetahu bahwa nabi mengajarkan hal yang sangat mulia pada kaumnya.

Saya memberi wasiat kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah ‘azza wa jalla, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintah kalian seorang hamba sahaya (budak)”. (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi, Hadits Hasan Shahih)

Sebagai seorang muslim tentu kita harus memiliki akidah yang baik. Sejelek apapun pemimpin, maka doakanlah agar ia berubah menjadi lebih baik.

Ketika pemimpin jatuh, sikap yang tepat adalah memberikan nasihat yang baik. Bukan malah semakin menjatuhkan.

Apabila mereka sangat keras, maka sikap kita yang terbaik adalah tetap sabar. Ujian yang datang tidak akan melebihi batas dari kemampuan.

Tidak perlu khawatir.

Taat disini tentu saja bukan berarti semuanya harus dituruti. Kita hanya wajib untuk taat dalam hal kebajikan.

Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An Nisa’ [4] : 59)

 

Doa Untuk Pemimpin

Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, maka aku akan berdoa agar diberikan pemimpin yang baik.

Ya Allah, jadikanlah pemimpin kami orang yang baik. Berikanlah taufik kepada mereka untuk melaksanakan perkara terbaik bagi diri mereka, bagi Islam, dan kaum muslimin.

Ya Allah, bantulah mereka untuk menunaikan tugasnya, sebagaimana yang Engkau perintahkan, wahai Rabb semesta alam.

Ya Allah, jauhkanlah mereka dari teman dekat yang jelek dan teman yang merusak. Juga dekatkanlah orang-orang yang baik dan pemberi nasihat yang baik kepada mereka, wahai Rabb semesta alam.

Ya Allah, jadikanlah pemimpin kaum muslimin sebagai orang yang baik, di mana pun mereka berada.

 

Bahaya Khuruj (Melawan) Terhadap Pemerintah

Mereka yang selalu memunculkan perpecahan, pertikaian, dan pergolakan terhadap pemerintahan muslim, pada hakikatnya telah melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan tersebut. Padahal, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kita untuk bersabar.

Melawan tidak akan menyelesaikan masalah.

Perlawanan yang akan dilakukan pun akan sia-sia. Saya rasa peperangan hanya akan membuang waktu, tenaga dan tentu saja nyawa-nyawa yang tidak berdosa.

Selama belum terlihat kekufuran, maka langkah yang tepat adalah tetap bersabar. Tetap berdoa untuk negeri ini agar senantiasa diberikan nikmat damai.

Sejauh ini, saya yakin siapapun yang menjadi pemerintahnya sedang berusaha terbaik untuk negeri Indonesia tercinta ini.

Saya sangat tidak mendukung gerakan anti terhadap pemerintahan yang puncaknya akan terjadi perpecahan.

Kudeta pada pemerintahan sendiri tidak akan mungkin menjadi solusi.

Karena itu maka sekali lagi, tolong percayalah kepada pemimpin yang nanti terpilih.

Tidak perlu khawatir. Mereka akan segera berusaha lebih baik, sebagaimana kamu yang lebih baik nanti.

Mari untuk melakukan yang terbaik untuk negeri ini. Berjanjilah untuk meningkatkan kualitas diri sebagai rakyat yang beradab dan berakhlak mulia.

Terima kasih telah membaca sampai baris ini. Saya akhiri tulisan panjang ini dengan sebuah kutipan.

“Ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country.” – John F. Kennedy.

 

Salam hangat,

Ficky Septian Ali

 

Catatan kaki: