Muhammad Naufal Zul Hazmi Mahasiswa S1 Elektronika dan Instrumentasi UGM yang masih menuntut Ilmu.

Apa Tujuan Hidup di Dunia?

5 min read

Apa Tujuan Hidup di Dunia? – Kita harus ingat bahwa umat manusia itu hanya bersinggah di kehidupan dunia. Setelah dunia masih ada kehidupan akhirat, kehidupan yang benar-benar nyata, yang kekal nan abadi. Sungguh dunia yang sedang kau pijak ini hanyalah fana belaka, akan rusak dan hancur pada waktunya.

Sesungguhnya kehidupan dunia ini merupakan kesempatan pertama dan terakhirmu. Kesempatan yang menjadi batu loncatan ke manakah engkau pergi dan tuju. “Apakah Surga atau Neraka?”

“Apakah engkau di dunia melakukan perbuatan buruk? Menghardik anak yatim? Durhaka kepada orang tua? Berbuat kerusakan di seluruh penjuru dunia? Menyembah kepada selain Allah?”

“Atau engkau mengambil kesempatan hidup dunia ini untuk melakukan hal-hal baik? Menyantuni anak yatim piatu? mencari ridha Allah? beriman kepada Allah? beribadah kepada Allah?”

Ada orang yang menjadikan dunia ini hanya tujuannya. Tidak pernah berpikir dengan kehidupan akhirat, bahkan dia tidak percaya adanya akhirat. 

Seharusnya sebagai seorang muslim yang bertakwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tujuan hidupnya harus akhirat. Dan ridha Allah yang paling utama, sehingga engkau akan di masukkan Surga-Nya.

Alangkah indahnya jika kalian menjadikan dunia untuk mengejar akhirat. Engkau jadikan segala hal yang engkau miliki di dunia untuk mengejar akhirat. 

Harus kalian ketahui, jika engkau beramal untuk kehidupan akhirat, tujuan hidupmu adalah akhirat. Maka dunia senantiasa akan mengiringinya. Nikmat dunia akan engkau gapai, apabila engkau terus mengejar nikmat akhirat, nikmat Surga, yang dijanjikan Allah Ta’ala.

Akhirat jadi tujuanmu, tidak menjadikan duniamu itu haram

Mencari akhirat bukan berarti mengharamkan dunia, bahkan dunia totalitasnya, Anda tanpa mengurangi menikmati dunia. Dan bahkan dunia semuanya Anda jadikan untuk mendapatkan Surga yang disediakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dunia ini jalan yang bisa mengantarkan ke surga dan jalan yang bisa mengantarkan ke Neraka.

“Barang siapa yang mobilnya, mengantarkan dia ke masjid. Mengantarkan dia ke majelis ta’lim, mengantarkan dia untuk menjadi orang yang menolong orang lain.”

“Melakukan kebaikan-kebaikan dengan hartanya. Maka sungguh hartanya telah mengantarkan ke Surga.”

“Barang siapa yang dengan mobilnya dan hartanya, mengantarkan ke kafe-kafe, ke bar-bar,  ke tempat perzinaan, ke tempat ia melampiaskan nafsu dan syahwatnya. Maka sungguh hartanya telah mengantarkan dia ke Neraka Jahanam.

Jika Anda mencari Jannah, mencari kampung akhirat. Maka tanpa sedikit pun akan mengurangi jatah Anda nikmat dunia.

“Apakah orang yang mencari surga, dia haram mengawini wanita?” Tidak.

“Apakah orang mencari akhirat, dia di haramkan ber-nikmat-nikmat dengan anaknya?” Tidak.

“Apakah orang mereka mencari Jannah dia di haramkan punya rumah, punya mobil, dia menyantap makanan yang enak-enak?” Tidak.

Semuanya boleh dan boleh. Kecuali yang diharamkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan mereka itu jadikan semuanya mendapatkan kampung akhirat. Alangkah indahnya orang yang seperti ini.

Tanpa mengurangi kenikmatan Anda menikmati dunia. Tetapi Anda dengan itu menuju kepada Jannah yang di sediakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Sungguh mulia bukan? Agama Islam telah membawa kemudahan dan kenikmatan Duniawi maupun Surgawi. Syaratnya ialah kalian harus jadikan akhirat itu tujuanmu dan ridha Allah jadi tujuanmu. Sehingga segala yang engkau perbuat di dunia harus berdasarkan syariat Islam, maka dunia akan membawamu ke Jannah.   

Penjara menurut Imam Ibnu Hajar Al Asqalani dan seorang Yahudi penjual minyak

Al Imam Ibnu Hajar Al Asqalani merupakan seorang ulama ahlul hadits. Dia seorang qadhi/hakim, yang dia penampilannya Masya Allah indahnya dan kendaraannya Masya Allah mewah.

Ketika dia sedang melakukan perjalanan, maka dia dicegat oleh seorang Yahudi, yang tengik letek (bau minyak yang sudah lama), kluwus (kusut kotor), karena dia penjual minyak, dan melarat/miskin pula.

Dalam Faid Al-Qadir (3: 730) karya Al-Munawi disebutkan kisah Ibnu Hajar berikut ini:

ذكروا أن الحافظ ابن حجر لما كان قاضي القضاة مر يوما بالسوق في موكب عظيم وهيئة جميلة فهجم عليه يهودي يبيع الزيت الحار وأثوابه ملطخة بالزيت وهو في غاية الرثاثة والشناعة فقبض على لجام بغلته وقال : يا شيخ الإسلام تزعم أن نبيكم قال الدنيا سجن المؤمن وجنة الكافر فأي سجن أنت فيه وأي جنة أنا فيها فقال : أنا بالنسبة لما أعد الله لي في الآخرة من النعيم كأني الآن في السجن وأنت بالنسبة لما أعد لك في الآخرة من العذاب الأليم كأنك في جنة فأسلم اليهودي

 

“Diceritakan bahwa Al-Hafizh Ibnu Hajar ketika ia menjadi seorang qadhi (hakim) terkemuka, suatu hari ia pernah melewati sebuah pasar yang penuh keramaian. Ibnu Hajar datang dengan pakaian yang begitu menawan (pakaian mewah). Kemudian orang Yahudi menyergapnya. Orang Yahudi tersebut sedang menjual minyak panas, tentu saja pakaiannya penuh dengan kotoran minyak. Tampilan Yahudi tersebut usang dan penuh keprihatinan.

Sambil memegang kekang kuda (yang biasa dipasang pada mulut kuda, pen.), Yahudi tersebut berkata pada Ibnu Hajar, “Wahai Syaikhul Islam (Ibnu Hajar, pen.), engkau menyatakan bahwa Nabi kalian (Nabi umat Islam) bersabda, “Ad-dunya sijnul mukmin, wa jannatul kafir (dunia itu penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang orang kafir).” Bagaimana keadaanmu saat ini bisa disebut penjara, lalu keadaanku di dunia seperti ini disebut surga?”

Ibnu Hajar memberikan jawaban, “Aku dilihat dari berbagai nikmat yang Allah janjikan untukku di akhirat, seakan-akan aku sedang di penjara. Sedangkan engkau (wahai Yahudi) dilihat dari balasan siksa yang pedih yang Allah berikan untukmu di akhirat, seakan-akan engkau berada di surga.”

Akhirnya, orang Yahudi tersebut pun masuk Islam.

Maka si yahudi ini mengucapkan dua kalimat syahadat “asyahadu an laa ilahailallah. Wa asyhadu ana Muhammadarasulullah.” Dia masuk islam.

Jika di lihat dari kisah di atas bahwa nikmat yang Allah janjikan kepada orang islam, orang yang beriman kepada Allah, di akhirat kelak akan serasa seperti penjara.

Sedangkan bagi mereka yang kafir, yang tidak beriman kepada Allah, jika di lihat dari segi balasan siksa pedih yang Allah berikan bagi mereka di akhirat, seakan-akan mereka di Surga.

Hiduplah di Dunia untuk akhirat

Menikmati dan mencari kampung akhirat, tidak mesti dengan meninggalkan dunia. Dan tidak harus meninggalkan duniamu. Tapi jadikan semua dunia Anda untuk mencari kampung akhirat.

Ilmu Anda, tenaga Anda, harta Anda, istri Anda, anak Anda, keluarga Anda. Anda bergaul dengan tetangga, dengan masyarakat. Jadikan semua yang Anda miliki itu  untuk mencari kampung akhirat. Sehingga tidak ada yang sia-sia dalam kehidupan Anda di dunia.

Dan islam tidak mendzolimi orang yang mereka mencari akhirat dengan menyengsarakan hak badan atau hak batin dia.

Maka Rasulullah mengingkari orang yang mereka menyiksa diri, karena untuk mencari kampung akhirat. Ketika mereka survey tentang ibadah Nabi dan ke si fulana. Mereka merasa sedikit, maka di antara mereka berangan-angan.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, ia menuturkan:

Ada tiga orang yang datang ke rumah isteri-isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya tentang ibadah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika mereka diberi kabar, mereka seakan-akan merasa tidak berarti. Mereka mengatakan:

“Apa artinya kita dibandingkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan terkemudian?” Salah seorang dari mereka berkata:

“Aku akan shalat malam selamanya.”

Orang kedua mengatakan:

“Aku akan berpuasa sepanjang masa dan tidak akan pernah berbuka.”

Orang ketiga mengatakan:

“Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selamanya.”

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang lalu bertanya:

“Apakah kalian yang mengatakan demikian dan demikian? Demi Allah, sesungguhnya aku lebih takut kepada Allah dan lebih bertakwa daripada kalian, tetapi aku berpuasa dan berbuka, shalat dan tidur, serta menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci Sunnah-ku, maka ia bukan termasuk golonganku.’” [HR. Al-Bukhari (no. 5063)]

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam, yang Beliau seorang utusan Allah, Rasul Allah. Beliau yang seorang Rasul lebih takut kepada Allah dan lebih bertakwa daripada umat yang lain. Namun beliau tetaplah seorang manusia, dia berpuasa lalu berbuka, sholat dan tidur, serta Rasul juga menikahi wanita.

Janganlah kalian sok jagoan, sok hebat untuk bisa lebih hebat dalam beribadah kepada Allah dengan kehendak kalian. Sungguh apabila kalian membenci Sunnah Rasulullah, maka kalian bukan umat Nabi Muhammad.

Agama Islam adalah agama yang mudah

Agama Islam tidak menyulitkan seseorang dalam menjalani hidup di dunia. Agama Islam ini mudah, tidak melarang kenikmatan duniawi. Agama Islam malah membawa kenikmatan dunia untuk menuju nikmat akhirat, yaitu Surga.

Bukankah banyak nikmat dunia yang dapat mendatangkan pahala bagi seseorang dan dia akan mendapatkan Surga di akhirat kelak. Nabi juga yang menegaskan. Agama ini mudah, tidakkah orang memberat-beratkan diri dalam beragama ini kecuali dia akan di kalahkan.

Apakah dengan dia dibuat bosan dengan segala perkaranya. Atau kemudian dia bahkan berhenti dari perkara tersebut. Islam mengajarkan tawassuth (hidup pertengahan). Dia betul-betul selalu dalam keadaan bisa menjaga kesegaran jiwanya dalam beribadah Kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Yang kedua tadi betul-betul jangan sampai kita maghrur/tertipu dengan dunia kita, sehingga kita melupakan akhirat kita. Carilah akhirat dengan tanpa mengurangi hak anda tentang dunia. Dan ingat dunia itu betul-betul menipu manusia.

Barang siapa yang tidak hati-hati, tidak waspada maka dunia akan betul-betul akan memakan korban, dan anda akan menjadi korban yang ke sekian dari dunia yang tampil menipu.  Jangan sekali-kali kalian terlena dengan dunia, tergiur dengan jabatan, mengambil uang haram atau korupsi, dan lain sebagainya.

Penutup

Jadikanlah Agama Islam untuk membimbing hidup di dunia dengan membawa hartamu, keluargamu, ilmumu, dan segala yang engkau miliki untuk menuju akhirat, untuk mendapatkan ridha Allah dan Surga Allah Ta’ala. 

Demikian artikel ini ditulis dari hasil review kajian 5 menit Ustadz Afifi Abdul Wadud di Youtube dengan judul “Hiduplah Di Dunia Untuk Akhirat” yang dipublikasikan pada 13 Maret 2019. 

Sekiranya mohon dimaafkan apabila ada kesalahan dalam penulisan atau hal lainnya, karena itu semata-mata hanya kekhilafan penulis. Semoga bermanfaat. Sekian dan terima kasih.

 

Referensi:

 

Muhammad Naufal Zul Hazmi Mahasiswa S1 Elektronika dan Instrumentasi UGM yang masih menuntut Ilmu.

Tinggalkan Balasan