Nisa Husnainna A full-time wife, a part-time content writer. Trying to inspire others and being a good servant of Allah.

Aisyah Istri Rasulullah dan Biografi Istri-istri Nabi (Part 1)

5 min read

aisyah istri rasulullah

Aisyah Istri Rasulullah dan Biografi Istri-istri Nabi (Part 1) – Assalamu’alaikum, pembaca setia Hijrahdulu.com!

Pada kesempatan kali ini kita akan membahas biografi singkat istri-istri Rasulullah, yang dikenal dengan sebutan Ummahatul Mukminin atau ibunda orang-orang beriman.

Sebagai seorang muslim apalagi muslimah, sangat penting bagi kita untuk mengenal istri-istri Rasulullah karena mereka semua adalah wanita mulia yang memiliki berbagai keutamaan.

Ummahatul Mukminin hidup di bawah bimbingan langsung manusia terbaik, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Kepribadian mereka patut kita teladani karena kedudukan mereka begitu agung.

Keagungan wanita-wanita mulia tersebut dibuktikan dengan tidak ditemukannya satu pun foto atau gambar dari istri-istri Rasulullah, tapi pribadi mereka dikenal sepanjang masa.

Salah satu di antara Ummahatul Mukminin yang sangat terkenal adalah Aisyah, istri Rasulullah yang paling dicintai nabi di antara istri-istrinya yang lain setelah Khadijah wafat.

Sejarah yang membahas tentang Aisyah memang sangat banyak, maka dari itu pada artikel ini akan lebih banyak dibahas mengenai biografi Ibunda Aisyah Radhiyallahu ‘anha.

Namun sebelum kita masuk ke pembahasan tentang Ibunda Aisyah, kita bahas dulu mengenai Ibunda Khadijah ya, karena beliau merupakan istri pertama nabi dan juga sangat nabi cintai.

Langsung saja kita simak biografi singkat istri-istri Rasulullah berikut ini:

Khadijah binti Khuwailid

Wanita Pedagang yang Kaya

Terlahir dari keluarga terhormat di Suku Quraisy, Khadijah dikenal sebagai seorang wanita yang berakhlak baik, cerdas, dan teguh pendirian.

Khadijah merupakan seorang pedagang sukses yang kaya raya. Kekayaan yang ia peroleh merupakan hasil kerja kerasnya di mana ia lah yang mengatur dan mengurusi sendiri perdagangannya.

Khadijah tidak pergi berdagang sendiri ke pasar, melainkan ia hanya mengupah orang-orang untuk menjualkan barang dagangannya lalu berbagi keuntungan.

 

Perkenalannya dengan Nabi

Awal mula Khadijah mengenal nabi yaitu ketika ia mendengar berita tentang seorang pemuda bernama Muhammad yang terkenal akan kejujuran, sifat amanah, dan kemuliaan akhlaknya.

Khadijah pun lantas mengirim utusan kepada Muhammad, menawarinya menjadi pedagang untuk menjualkan barang dagangannya ke Syam.

Muhammad menerima tawaran Khadijah lalu beliau pun berangkat ke Syam untuk berdagang ditemani oleh seorang budak milik Khadijah bernama Maisarah.

Sepulang dari Negeri Syam, Muhammad membawa keuntungan melimpah dan harta yang sangat banyak, yang tak pernah dihasilkan oleh Khadijah sebelumnya.

Nabi datang menemui Khadijah untuk memberitakan laba yang ia dapatkan. Khadijah sangat gembira dan memberikan upah berlipat ganda kepada Nabi.

 

Tanda-tanda Kemunculan Nabi

Maisarah, budak milik Khadijah yang menemani Muhammad selama perjalanan niaga ke Syam menceritakan cerita-cerita menakjubkan tentang Muhammad kepada majikannya.

Maisarah bercerita bahwa ia melihat awan yang selalu menaungi Muhammad di siang hari ketika beliau mengendarai unta, sehingga beliau terlindungi dari terik matahari yang panas.

Lalu saat Muhammad sedang beristirahat di bawah pohon rindang, seorang rahib melihat Muhammad dan berkata “Sungguh, lelaki ini adalah salah seorang nabi dari kalangan nabi”.

Setelah mendengar cerita budaknya, Khadijah tidur dan bermimpi. Di dalam mimpinya, ia melihat sebuah matahari besar jatuh dari langit Mekah ke rumahnya. Cahaya matahari tersebut memenuhi rumahnya hingga keluar menerangi seluruh dunia.

Khadijah menceritakan mimpinya tersebut kepada sepupunya, Waraqah bin Naufal. Waraqah berkata, “Bergembiralah, saudara sepupuku. Jika Allah membenarkan mimpimu niscaya Dia akan memasukkan cahaya kenabian ke rumahmu”.

Allah mengirimkan sinyal-sinyal lain kepada Khadijah. Suatu hari ketika ia sedang thawaf di Baitul Haram dan duduk berbincang dengan wanita-wanita lain, tiba-tiba ada seseorang yang berteriak keras.

“Wahai sekalian wanita Quraisy! Sungguh, sebentar lagi akan ada nabi yang muncul. Siapa saja di antara kalian yang mampu untuk menjadi istrinya maka hendaklah ia melakukannya”.

Semua wanita-wanita Quraisy itu melemparinya dengan batu, kecuali Khadijah. Ia terdiam dan termenung, serta mulai berharap bahwa dirinyalah yang akan menjadi istri sang nabi.

 

Pernikahannya dengan Nabi

Khadijah telah menghimpun bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Muhammad adalah sang nabi terakhir. Ia pun mengutus teman dekatnya, Nafisah binti Munabih, untuk menemui Muhammad.

“Jika kamu dicukupi dengan harta, lalu kamu diundang kepada si cantik yang memiliki harta berlimpah dan kemuliaan yang luar biasa, maukah kamu memenuhinya?” Tanya Nafisah kepada Muhammad.

Muhammad bertanya, “Siapa dia?”

“Khadijah,” jawab Nafisah.

Nabi menyetujui undangan tersebut lalu Nafisah menyampaikan berita gembira itu kepada Khadijah. Khadijah segera menyusun rencana pertemuan Muhammad dengan keluarganya.

Muhammad mendatangi undangan pertemuan itu ditemani beberapa pamannya yaitu Abu Thalib, Hamzah, dan Amru bin Asad yang meminang Khadijah untuk Muhammad.

Khadijah memberikan keteladanan kepada para wanita muslimah bagaimana memilih pendamping hidup yang tepat berdasarkan standar akhlak dan agama.

 

Khadijah Sang Istri dan Ibu

Dari pernikahannya dengan Muhammad, Khadijah dikaruniai 4 orang anak perempuan: Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fatimah Az-zahra. Sedangkan kedua anak laki-lakinya, Qasim dan Abdullah meninggal saat masih kecil.

Khadijah lebih memilih untuk mendidik dan mengasuh sendiri anak-anaknya. Padahal dengan kekayaannya, ia mampu mengangkat pembantu untuk mengasuh anak-anaknya.

Hal ini dikarenakan Khadijah sangat memahami tanggung jawabnya sebagai ibu, yakni mendidik dan mempersiapkan putri-putrinya menghadapi masa depan yang diharapkan.

Khadijah menjadi istri terbaik bagi Rasulullah. Rasulullah tidak pernah menikahi perempuan manapun sampai Khadijah meninggal, karena ia memiliki keistimewaan di hadapan nabi dan mampu mencukupi nabi.

Khadijah senantiasa mendampingi suaminya, membantu dakwahnya sekuat tenaga, menjadi pengobat luka, serta penghilang kesedihan dan kesusahan nabi.

Di samping menjadi istri pertama nabi, Khadijah juga menjadi wanita pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

 

Saudah Binti Zam’ah

Mengenal Saudah

Saudah dikenal sebagai wanita yang bernasab baik, cerdas, dan mulia di antara para wanita Quraisy. Dia termasuk kalangan wanita terkemuka pada masanya.

Setelah wafatnya Khadijah, nabi merasa kekosongan yang besar di dalam kehidupannya. Suatu hari Khaulah binti Hakim datang ke rumah Rasulullah.

Khaulah mengusulkan kepada Nabi untuk menikahi Saudah binti Zam’ah, yang ketika itu sudah beriman. Nabi pun menyetujui usulan Khaulah untuk meminang Saudah.

Saudah yang mendengar berita bahwa dirinya akan dilamar Rasulullah merasa amat senang, begitupun Zam’ah (ayahnya).

Saudah pun menjadi wanita pertama yang menikah dengan nabi setelah Khadijah meninggal. Saudah dan putrinya yang masih kecil pindah ke rumah nabi kemudian ikut hijrah ke Madinah.

 

Keutamaannya

Saudah adalah wanita yang dermawan dan pemurah dalam bersedekah. Apabila mendapat rezeki, ia langsung bersegera menginfakkan dirhamnya demi mencari keridhaan Allah.

Suatu hari saat istri-istri nabi sedang berkumpul mereka berkata, “Wahai Rasulullah, siapa di antara kami yang paling cepat menyusulmu?”

Rasul menjawab, “Yang paling panjang tangannya di antara kalian”. Mereka kemudian mengambil sebilah bambu untuk mengukur panjang tangannya masing-masing.

Beberapa waktu kemudian barulah mereka menyadari bahwa yang dimaksud panjang tangannya adalah suka bersedekah. Saudah adalah istri yang paling cepat menyusul nabi (wafat). Dia adalah wanita yang suka bersedekah.

 

Aisyah binti Abu Bakar

Kecerdasannya

Aisyah binti Abu Bakar merupakan putri dari Sahabat Rasulullah yang paling dekat dengan Rasulullah, yakni Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Sejarah menyatakan bahwa Aisyah merupakan wanita yang paling cerdas dan tidak diragukan lagi kecerdasannya.

Aisyah menjadi istri nabi yang paling banyak meriwayatkan hadits yaitu sebanyak 2.510 hadits. Setelahnya yaitu Ummu Salamah sebanyak 378 hadits, Maemunah 76 hadits, dan Hafshah 60 hadits.

Aisyah memiliki kecintaan kepada dakwah, cita-cita yang tinggi, dan akhlak yang luhur. Setelah Rasulullah wafat, Aisyah menjadi sumber rujukan banyak kaum muslimin.

 

Nabi Menjadi Pengantin dengan Aisyah

Abu Bakar menikahkan Aisyah dengan Rasulullah pada bulan Syawal, namun Nabi baru berkumpul serumah dengan Aisyah 3 tahun setelahnya pada bulan Syawal pula.

Setelah menikah, barulah Rasulullah bercerita pada Aisyah bahwa malaikat Jibril mendatangi beliau dalam mimpinya 3 malam berturut-turut dengan membawa gambar Aisyah seraya berkata, ‘Ini adalah istrimu’. Lantas nabi berkata, “Jika itu berasal dari Allah niscaya Dia pasti mewujudkannya”.

Nabi sangat mencintai Aisyah dan beliau menampakkan kecintaan itu. Amru bin Ash pernah bertanya kepada Nabi, “Siapakah manusia yang paling Engkau cintai?”

Nabi menjawab, “Aisyah,” Amru bertanya lagi, “Lantas dari kalangan pria?” Rasulullah menjawab, “Ayahnya”.

 

Aisyah dan Kecemburuannya

Aisyah sangat mencintai Nabi dengan sepenuh hati hingga terkadang ia sangat mencemburui Nabi, bahkan menjadi istri Nabi yang paling pencemburu.

Kecemburuannya yang paling besar adalah terhadap Khadijah.

Aisyah berkata, “Aku tidak pernah mencemburui seorang pun istri Rasulullah melebihi kecemburuanku kepada Khadijah, karena seringnya Rasulullah mengingat dan menyanjungnya.”

Hadist ini mengukuhkan bolehnya cemburu, karena cemburu juga bisa terjadi di kalangan wanita-wanita mulia. Akan tetapi setiap muslimah wajib menahan dan mengendalikan rasa cemburunya.

Baca juga: Takdir Membuatku Berjodoh dengan Dia – Part I

Aisyah dan Berdandannya

Aisyah berdandan dan mempercantik dirinya hanya untuk Nabi, sehingga Nabi tidak pernah melihat Aisyah kecuali dalam keadaan yang beliau sukai.

Aisyah memakai baju yang dicelup warnanya, baik dengan warna kuning maupun merah, memilih wewangian dan perhiasan yang dikagumi oleh Rasulullah, serta menjauhkan diri dari segala yang tidak disenangi dan tidak diridhai oleh beliau.

Aisyah istri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam adalah wanita yang cantik parasnya, indah perawakannya, bersih bajunya, dan tak pernah lalai merawat dirinya, salah satunya dengan bersiwak.

Aisyah bertutur, “Duhai sekalian wanita! Andaikata kalian mengetahui hak suami kalian terhadap diri kalian, niscaya salah seorang perempuan di antara kalian akan mengusap debu dari kedua kaki suaminya dengan pipinya”.

Ummul Mukminin Aisyah telah memberikan pengarahan kepada para istri muslimah untuk senantiasa menempatkan perhiasan dan kecantikan mereka pada kedudukan yang utama, yaitu suami mereka. Bukan untuk selainnya.

 

Bersambung….

(Nantikan kelanjutan kisahnya di postingan berjudul: Aisyah Istri Rasulullah dan Biografi Istri-istri Nabi – Part II)

 

Daftar Pustaka:

Mas’ad, Muhammad Fathi. 2013. Ummahatul Mukminin: Istri-istri Rasulullah, Ibunda Orang-orang Beriman. Al-Qowam. Solo.

Nisa Husnainna A full-time wife, a part-time content writer. Trying to inspire others and being a good servant of Allah.

One Reply to “Aisyah Istri Rasulullah dan Biografi Istri-istri Nabi (Part 1)”

Tinggalkan Balasan