Keutamaan Mengajarkan Tauhid Untuk Anak

0
58
views
tauhid untuk anak

Bagaimana Cara Mengajarkan Tauhid Untuk Anak?

Di era globalisasi ini, tentu siapa saja sebagai orang tua harus khawatir terhadap masa depan anak-anaknya. Terutama hal-hal yang berkaitan dengan tauhid untuk anak.

Sudah lama media mencoba meracuni anak-anak melalui acara televisi yang tidak bermutu.

Sebagai orang tua, kita tentu memiliki harapan agar sang anak menjadi seseorang yang sukses kelak di dunia dan di akhirat. Kita juga berharap agar senantiasa anak-anak kita selalu mendoakan kebaikan untuk orang tuanya.

Tapi.

Apa bisa seorang anak menjadi berbakti kepada orang tuanya, apabila tidak pernah ditanamkan tauhid?

Sekali lagi tauhid sangat penting untuk anak. Kita harus bisa menanamkannya sedini mungkin pada anak. Karena dengan tauhid, anak-anak kita akan menjadi manusia dengan aqidah yang murni.

Apabila telah benar aqidahnya, maka insha allah anak-anak kita akan selamat baik di dunia dan di akhirat.

Tentu kita ingin anak kita selamat, bukan?

 

Jangan Pertaruhkan Aqidah Anak!

Sebenarnya saya sendiri masih seorang anak-anak. Saya belum cukup dewasa untuk menuliskan hal ini. Tapi saya tahu ketika saya masih kecil, ada banyak hal yang ternyata seperti menjadi doktrin di pikiran saya.

Sebagai generasi 90s, saya sudah sangat terbiasa mendengar kalimat-kalimat berikut di televisi. Diantaranya,

“Semua permohonan bisa dikabulkan dengan kantong ajaib.”

“Dengan kekuatan bulan, aku akan menguasai dunia.”

Ya. Ini hanya sebagai contoh kecil saja.

Padahal segala jenis kekuatan sebenarnya adalah milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Begitu pula tentang permohonan yang dikabulkan.

Tidak adapun satu makhluk didunia ini mengabulkan permohonan tanpa seizin Allah.

Acara-acara pada generasi sekarang pun tidak beda jauh. Malah sepertinya semakin parah.

Seperti misalnya acara-acara kartun yang ternyata mendukung LGBT, karena memunculkan seorang banci disana. Seakan-akan pantas berada di lingkungan bermasyarakat.

Kartun-karun ini juga makin parah dengan menonjolkan bagian tubuh tertentu.

Lalu ada film hantu yang ternyata hanya semakin merusah aqidah saja.

Kemudian, paling parah ada program televisi yang menghadirkan paranormal yang memperkenalkan penggunaan jimat-jimat.

(Baca juga: Kalimat Sederhana Namun Luar Biasa, “Dimana Allah?”)

Kita harus jauhkan anak-anak dari segala jenis kesyirikan dan harus mampu mendekatkan anak-anak kita dengan tauhid.

Sebagai orang tua kita harus bisa mengontrol dan mengawasi apa yang ditonton oleh anak-anak kita.

Semoga dengan mengontrol dan mengawasi kegiatan anak, kita senantiasa bisa menjaga aqidah anak-anak kita.

Tetap pantau aktifitas anak-anak kita. Jaga ia dalam kesehariannya, awasi penggunaan media sosial dan ajari mereka terus agar tetap dalam tauhid.

 

Kisah Luqman Al-Hakim dan Anaknya

Di masa lampau, ada orang shalih. Saking salihnya, kisahnya sampai menjadi salah satu surah di Al Qur’an.

Beliau adalah Luqman Al-Hakim. Seorang ahli hikmah yang terkenal dengan nasihat kepada anaknya untuk berbakti kepada kedua orang tua dan tidak menyekutukan Allah.

“Wahai Anakku janganlah kamu menyekutukan Allah, karena menyekutukan Allah itu adalah kezaliman yang besar.” (Luqman: 13)

Ibnu Katsir dalam kitabnya Bidayah wa an-Nihayah dan Tafsir Ibnu Katsir berpendapat, nama panjangnya ialah Luqman bin ‘Anqa’ bin Sadun, sedangkan anaknya bernama Taran, demikian pula menurut As-Suhaili.

Sementara itu, Syauqi Abu Khalil dalam kitabnya Athlas Al-Qur’an menyebutkan, Luqman adalah putra saudara perempuan Ayyub atau putra bibinya. Namun, ada juga yang berpendapat Luqman hidup hingga Nabi Daud AS diutus menjadi seorang rasul.

Ibnu Katsir menjelaskan, mayoritas ulama berpendapat Luqman adalah seorang hamba Allah yang saleh tanpa menerima kenabian. Sementara itu, Jabir bin Abdullah mengidentifikasi, Luqman memiliki tubuh yang sangat pendek dan hidungnya tidak mancung. Sedangkan, Ibnu Jarir berpendapat Luqman seorang hamba sahaya yang berprofesi sebagai tukang kayu dan berasal dari Habsyi.

Menurut Syauqi, ketika Daud diutus oleh Allah menjadi nabi dan rasul, Luqman tidak lagi memberikan fatwa. Ketika hal itu ditanyakan kepadanya, Luqman menjawab bahwa ia sudah cukup memberikan fatwa, “Tidakkah aku merasa cukup, bila aku sudah diberi kecukupan?”

Ya. Siapapun beliau, tentu saja dia orang yang baik dan semoga kita bisa menjadikannya sebagai contoh untuk menjadi sosok orang tua yang baik.

Cintanya yang begitu besar kepada anak-anaknya ia tunjukan dengan mengajarkan tauhid. Tentunya dengan harapan agar anak-anaknya selamat kelak.

 

Orang Tua yang Memurnikan Aqidah dengan Tauhid

Sebelum mengajarkan anak-anak kita tentang tauhid, tentu saja sebagai orang tua kita harus terus belajar.

Ya. Kita harus pelajari tauhid terlebih dahulu, sebelum mengajarkan tauhid pada anak.

Dengan tauhid yang orang tua pelajari, kelak kita akan menggandeng tangan anak-anak kita menuju surganya Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kenalkan anak dengan Allah sejak dini.

Misalnya: Ketika anak kita terjatuh karena tersandung batu dan menangis. Saat itu, katakanlah,

“Qadarullah, ini adalah takdir Allah semoga jadi penghapus dosa”

Bukan malah,

“Batu ini nakal yaa!”

Ini hanya contoh kecil saja.

Sebagai orang tua kita harus mengajarkan dan mengenalkan siapa Allah dan apa hak-hak utamanya. Lalu selalu senantiasa membacakan sirah Nabi shallallahu ‘alaihu wa sallam. Kemudian ceritakan kisah heroik kepahlawanan para Sahabat dan sabarnya orang-orang shalih.

Sebagai orang tua tentu kita juga harus memberi contoh dan menjadi teladan yang baik. Karena itu dikeseharian kita, tunjukan bahwa kita sebagai orang tua telah menjalankan tauhid dalam keseharian.

Mari selalu mengajak anak-anak mengaplikasikan perbuatan baik setiap hari, agar kelak di masa depan mereka telah terbiasa.

Kita juga bisa ajak anak-anak kita untuk berdiskusi. Coba tanyakan hal-hal yang berkaitan dengan alam sebagai tanda bukti Allah yang maha kuasa. Tanyakanlah,

“Siapa yang mengatur (mengendalikan) matahari? Allah.”

“Siapa yang mengendalikan malam? Allah.”

Kemudian ajak anak-anak kita untuk merenungkan terkait dirinya. Misalnya, mata. Mengapa mata bisa melihat,hidung dapat mencium bau dan lainnya.

Jelaskan kepada mereka bahwa Allah benar-benar nyata. Karena tidak mungkin dirinya bisa ada dengan kesempurnaannya tanpa Allah.

Ini adalah contoh sebagaimana baiknya sikap orang tua kepada anaknya. Cinta pada anak dengan tauhid akan membuat mereka sangat mencitai kita sebagai orang tua.

Semoga anak kita akan selalu berdoa juga untuk kebaikan kita. Jangan lupa kita sebagai orang tua juga tetaplah anak-anak untuk bapak-ibu kita, karena itu saya juga ingin mengajak kita sebagai orang tua agar selalu mendoakan orang tuanya.

“Wahai, Rabb-ku, sayangilah mereka berdua SEPERTI mereka menyayangiku waktu aku kecil”. [Al-Isra/17: 24]

 

Catatan kaki: