Muhammad Naufal Zul Hazmi Mahasiswa S1 Elektronika dan Instrumentasi UGM yang masih menuntut Ilmu.

Jangan Pernah Mengumbar Dosa yang Tertutup

6 min read

Dosa yang tertutup

Dosa yang Tertutup – Sering kali kita tak menyadari bahwa dosa-dosa yang kita perbuat, malah kita sebar luaskan. Dosa-dosa atau perbuatan maksiat itu sebenarnya adalah aib kita.

Sehingga jangan sampai kita bongkar aib kita, sedangkan Allah sudah menutupi. Dosa yang tertutup tidaklah pantas untuk diumbar. 

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam hadis berikut ini,

عن سالم بن عبد اللّه قال: سمعت أبا هريرة يقول سمعت رسول اللّه صلّى اللّه عليه وسلّم- يقول: كلّ أمّتي معافى إلّا المجاهرين، وإنّ من المجاهرة أن يعمل الرّجل باللّيل عملا، ثمّ يصبح وقد ستره اللّه فيقول: يا فلان عملت البارحة كذا وكذا، وقد بات يستره ربّه، ويصبح يكشف ستر اللّه عنه

Dari Salim bin Abdullah, dia berkata, Aku mendengar Abu Hurairah radhiyallahu’ anhu bercerita bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali mujahirin (orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa). Dan yang termasuk terang-terangan berbuat dosa adalah seseorang berbuat (dosa) pada malam hari, kemudian pada pagi hari dia menceritakannya, padahal Allah telah menutupi perbuatannya tersebut, yang mana dia berkata, ‘Hai Fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begitu.’ Sebenarnya pada malam hari Rabb-nya telah menutupi perbuatannya itu, tetapi pada pagi harinya dia menyingkap perbuatannya sendiri yang telah ditutupi oleh Allah tersebut.”

[H.R. Bukhari (6069) dalam kitab Fathul Bari dan lafadz ini milik Bukhari, dan riwayat Muslim (2990)]

Mu’afa (معافى) artinya selamat, dan selamat kelazimannya adalah diampuni, diampunkan, mu’afa itu dari muafiyah yaitu selamat. Tapi al ‘afiyah itu mengandung al ‘afu, yatu diampunkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Selamat maksudnya ialah selamat dari api neraka dan di ampuni oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ia diampuni karena membiarkan dosa-dosa yang ada tetap tertutup.

Maka janganlah kalian menjadi kaum mujahirin, yang dengan terang-terangan melakukan perbuatan maksiat. Tidakkah kalian ingin selamat dari api neraka? Tutuplah aibmu dan tobatlah serta memohon kepada Allah agar Allah menutup aibmu.

Mujahirin

Ada suatu orang yang dinamakan dengan mujahirin yaitu orang-orang yang dengan secara terang-terangan melakukan maksiat. 

Dalam hadits di atas ada kata (إلّا المجاهرين) Kecuali orang-orang yang menampakkan. Maksudnya menampakkan, yaitu di antara makna nampak yang terpetik dalam benak kita, yaitu bermaksiat dengan terang-terangan.

Orang yang minum khamar, kemudian dia videokan misalnya, disebar luaskan di medsos. Kemudian dia berzina, dia main ke diskotik. Kemudian dia nampakkan, memeluk wanita kemudian dia foto, divideokan, disebarkan. Dan dia malah bangga dengan hal tersebut.

Dia bermaksiat dengan terang-terangan, kemudian buka auratnya dipanggung nyanyi dan goyang kesana-sini. Main film, main sinetron dengan terbuka aurat. Inilah yang disebut mujahirin, kaum yang menampakkan kemaksiatannya, dengan terang-terangan dan tidak memiliki rasa malu. 

Namun, di antara satu bentuk Mujaharah, yaitu menampakkan. Yaitu seseorang yang bermaksiat, di malam hari. Di mana Allah telah menutup aibnya itu. Akan tetapi kemudian di pagi hari dibuka aibnya, ia bercerita di depan orang lain.

Dia malah bermaksiat. Entah dia melakukan apa yang buruk. Entah dia melihat apa yang haram. Entah dia berhubungan dengan wanita haram. Entah dia bermain laki-laki dengan berbuat hubungan yang tidak benar. Entah dia meminum khamar, entah dia memakai narkoba.

Kemudian Allah telah tutupi aib nya itu, tapi besok paginya ia bertemu dengan orang-orang yang tidak tahu aibnya. Sebelumnya hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang tahu. Namun, kemudian dia bercerita kepada orang itu. Hal ini yang tidak boleh, ini tidak akan diampuni oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Allah sudah tutupi aibmu

Karena Allah sudah tutup aib seseorang, akan tetapi dia malah bercerita aibnya pada orang lain. Maka seseorang harus berhati-hati. Cerita saja, kita bercerita tentang tentang dosa kita, dalam rangka sedih, atau menyesal saja itu sungguh tidak boleh.

Apalagi dengan membanggakan aibnya itu. Kita cerita, “Aduh qodarullah tadi malam, aku begini (misal meminum khamar) “Aduh, saya menyesal banget” Sungguh ini tidak boleh, sangat dilarang oleh Allah Ta’ala.

Jika anda sedih serahkan saja pada Allah. Kalau anda berdosa, maka bertobatlah hanya kepada Allah. Curahkan saja kepada Allah dan memohonlah ampunan-Nya.

Bercerita dalam kondisi sedih saja tidak boleh. Apalagi dalam rangka membanga-banggakan.

Sungguh perbuatan buruk, apabila pamer maksiatnya maupun zina yang dipamerkan. Oleh karenanya sesorang harus waspada, kalau dia melakukan maksiat jangan cerita kepada siapapun. Dia harus tutup aibnya, jangan ceritakan kepada orang lain. Karena itu maksiat yang Allah tidak suka, yang Allah sudah tutup jangan bongkar dosa yang kita lakukan.

Seandainya Allah tidak menututpi dosa-dosa kita, niscaya tidak ada seorangpun yang mau duduk dengan kita.

[Syuabul Iman, 6/20]

Amal itu tergantung akhirnya 

“Boleh tidak kita menceritakan perbuatan dosa kita?” Seperti bermain musik atau berpacaran sebagai contoh.

“Sungguh ini tidak boleh!” Tutup.

Allah sudah tutup aibmu, maka janganlah engkau lakukan lagi, jangan ceritakan pada orang. Kita memberikan semangat, banyak contoh lain.

Daripada ulama salaf, bagaimana mereka semangat. Jangan contohkan perbuatan dosa dan maksiat. Karena kita tidak tahu, apakah kita tetap dengan tobat kita masih istiqamah, atau kembali lagi nanti, kita tidak tahu, karena

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6607)

Amal itu tergantung akhirnya, jangan ceritakan perbuatan dosa kita kepada orang. “Jangan!” Justru kita harus tutupi. Dan kita harus bertobat kepada Allah dengan tobatan nasuha.

Justru kita ingin, jangan sampai orang tahu perbuatan dosa kita. Jangan sampai orang tahu perbuatan maksiat kita, jangan sampai orang tahu tentang aib kekurangan kita dalam perbuatan dosa dan maksiat.

Tutup semua itu, dan memohon kepada Allah, agar Allah menutupi, dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, menyuruh kita, untuk melakukan amal-amalan yang shalih, dan memohon rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kemudian meminta kepada Allah, agar Allah menututpi aurat kita. Menutupi aib kita, menutupi kekurangan kita. Dosa itu aib, sehingga kalau aib ditutup, jangan ceritakan kepada orang lain. Ada satu hadits Nabi, dan juga yang berkaitan dengan istiqamah menyuruh kita untuk melakukan amal shalih.

Hadits ini hasan dari Syaikh Al Albani, di dalam kitabnya silsilah hadits as shahih. Diriwayatkan oleh Imam Hakim, diriwayatkan juga oleh Abu Nuaim dalam kitabnya Hilyatul Auliya.

Kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam,

Kerjakanlah kebaikan sepanjang tahun kamu.

Arti kebaikan bukan hanya ada pada Ramadhan. Kerjakan kebaikan itu sepanjang tahun itu, sepanjang hari, sepanjang pekan, sepanjang bulan.

Sepanjang tahun kerjakan kebaikan itu dan tidaklah kalian persiapkan diri untuk menerima limpahan rahmat Allah, sesungguhnya bagi Allah itu ada limpahan rahmatnya.

Berdoalah kepada Allah, untuk menutupi aibmu dan memohon ampunan kepada-Nya

Allah memberikan limpahan rahmat kepada hambanya yang Allah kehendaki. Meminta dan memohon lah kepada Allah, agar Allah menutupi aurat kalian. Aib-aib kalian. Dan minta kepada Allah agar Allah memberikan rasa aman kepada kalian dan tidak ada rasa takut. Seperti yang diriwayatkan oleh Imam At Thabrani.

Dalam Al Muj’am Al Kabir, dan imam baihaqi dalam syu’abul iman. Dan shahih al albani dalam silsilah hadits as shahihnya di juz yang ke empat.

Maka kita berusaha untuk berbuat kebaikan dan mohon rahmat Allah dan kita minta kepada Allah agar Allah menutup aurat kita.

Kemudian perbanyaklah doa kepada Allah, dzikir kepada Allah. Yaitu dzikir pagi dan petang yang biasa di baca.

Dari Anas bin Malik رضي الله عنه ia berkata:

“Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda: ‘Aku duduk bersama orang-orang yang berdzikir kepada Allah dari mulai shalat Shubuh sampai terbit matahari lebih aku sukai dari memerdekakan empat orang budak dari anak Isma’il. Dan aku duduk bersama orang-orang yang berdzikir kepada Allah dari mulai shalat ‘Ashar sampai terbenam matahari lebih aku cintai dari memerdekakan empat orang budak.’” [HR. Abu Dawud no. 3667, lihat Shahiih Abi Dawud 11/698 no. 3114 – Misykaatul Mashaabiih no. 970, hasan]

Maka kalian harusnya sudah hafal, doa untuk menutup aurat. Kalau kalian tidak hafal berarti kalian tidak hafal doa dzikir pagi dan sore hari. Dzikir pagi sore yaitu, 

اللَّهُمَّ إنِّي أسْأَلُك الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُك الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي ، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي وَآمِنْ رَوْعَاتِي ، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي ، وَعَن يَمِينِي وَعَن شِمَالِي وَمِنْ فَوْقِي ، وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي

Ya Allâh, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allâh, sungguh aku mohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan untuk agamaku, duniaku, keluargaku dan dan hartaku. Ya Allâh, tutuplah auratku (aib celaku), berilah keamanan dari rasa takutku. Ya Allâh, perliharalah aku dari arah depan, belakang, kanan, kiri, dan dari arah atasku. Aku berlindung dengan keagungan-Mu, agar aku terhindar kebinasaan dari bawahku (dibenamkan  ke dalam bumi). [HR. Abu Daud, An-Nasâ’i, Ibnu Mâjah]

Itu adalah doa dzikir pagi sore yang kalian baca, hanya saja anda tidak atau belum menghayati, makna dari dzikir itu, yang penting asal baca dan asal bunyi.

[Baca Juga: Kepada Siapa Kita Pantas Berharap?]

Perbanyaklah dzikir kepada Allah

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً. وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلاً

“Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut Nama) Allah dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” [QS. Al Ahzab: 41-42].

Dalam ayat tersebut, kita sebagai orang yang beriman seharusnya memperbanyak dzikir kepada Allah, terutama di waktu pagi dan petang.

Bersabarlah kalian dan tetap istiqamah dalam bertobat, karena janji Allah itu pasti, yaitu tobat dengan memohon ampunan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas dosamu dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. 

Allah Azza Wa Jalla berfirman,

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ

“Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Rabb-mu pada waktu petang dan pagi.” [QS. Al Mu’min: 55]

Dan perhatikan makna doa dzikir pada poin di atas, mudah-mudahan Allah menjaga syariat kita. Makanya dengan dzikir-dzikir yang kalian  baca itu, kalian harus tahu artinya, dan hayati artinya. Betul-betul kalian memohon kepada Allah.

Bukan asal baca, asal dzikir, bukan itu, tapi menghayati maknanya. Sehingga betul-betul anda meminta dan memohon kepada Allah, agar Allah memberikan rahmatnya kepada kita.

Apabila seorang hamba, sudah bertobat kepada Allah. Yang dilakukannya dengan tobat, harus tobatan nasuha. Apakah dosa itu akan diperlihatkan di hari kiamat?

Ya tentu Allah akan hapuskan, kalau dia sudah tobat dengan tobatan nasuha. Dan dia istiqamah dengan tobatnya. Maka Allah akan hapuskan dosa-dosanya.

اَلَمْ يَعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهٖ وَيَأْخُذُ الصَّدَقٰتِ وَاَنَّ اللّٰهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ – ١٠٤

Tidakkah mereka mengetahui, bahwa Allah menerima tobat hamba-hamba-Nya dan menerima zakat(nya), dan bahwa Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang? [QS. At Taubah:104]

Dan Allah akan berjanji untuk menghapuskan dosa-dosanya. Jadi kita harus terus bertobat kepada Allah dan memohon kepada Allah agar Allah menghapuskan dosa-dosa kita.

Istiqamah dalam bertobat

Kita ini banyak dzolim terhadap diri kita, banyak lalai, maka terus berdoa kepada Allah agar mengampunkan dosa-dosa kita, dan Allah memberikan kita istiqamah.

Allâh Ta’ala berfirman:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Maka istiqomahlah (tetaplah kamu pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan.

[QS. Hûd: 112]

Sungguh kalian harus tetap istiqamah di jalan yang benar dan istiqamah dalam bertobat. Jangan sampai engkau melewati batas, karena Allah Maha Melihat apa yang engkau kerjakan. 

Istiqamah lah dalam bertobat kepada Allah, dengan tobatan nasuha, kelak Allah akan beri engkau Surga. Karena janji Allah itu pasti dan janganlah engkau ingkari. 

Penutup

Sekali lagi penulis ingatkan bahwa sebaiknya sebagai seorang muslim yang telah berhijrah untuk tetap istiqomah di jalan yang lurus. Dosa-dosa yang telah lama tertutup, tidaklah perlu diceritakan kembali. Allah sudah baik menutupi dosa-dosa kita, sudah saatnya kita menjadi orang yang jauh lebih baik.

Demikian artikel ini ditulis dari hasil review kajian Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA di Youtube dengan judul “Jangan menceritakan aib diri sendiri” yang dipublikasikan pada 14 Oktober 2020. Dan review kajian Ustadz Yazid Bin Abdul Qadir Jawas di Youtube dengan judul “Membuka aib sendiri setelah sebelumnya Allah tutupi” yang dipublikasikan pada 11 Mei 2018.

Sekiranya mohon dimaafkan apabila ada kesalahan dalam penulisan atau hal lainnya, karena itu semata-mata hanya kekhilafan penulis. Semoga bermanfaat. Sekian dan terima kasih.

Referensi:

Muhammad Naufal Zul Hazmi Mahasiswa S1 Elektronika dan Instrumentasi UGM yang masih menuntut Ilmu.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: