Ficky Septian Ali Seorang Suami, Blogger, Penulis Paruh Waktu, Storyteller, Pemuda Hijrah dan Banyak Lagi.

Cara Bertaubat Kepada Allah dan Syarat Agar Taubat Diterima

3 min read

cara bertaubat

Hijrahdulu.com – Taubat adalah kembali. Seseorang yang mencari cara untuk bertaubat kepada Allah artinya ia sedang berusaha kembali dari dosanya (berpaling dan menarik diri dari dosa masa lalu).

Taubat adalah kembali kepada Allah dengan melepaskan hati dari belenggu yang membuatnya terus-menerus melakukan dosa, kemudian menggantinya dengan melaksanakan perintah Allah.

Hakikat taubat adalah perasaan di dalam hati untuk menyesali tingkah laku maksiat yang sudah terjadi di masa lalu, lantas ia mengarahkan hati kepada Allah Azza wa Jalla.

Kemudian pada sisa usianya mencegah diri berasal dari perbuatan dosa dan melakukan amal shaleh dan meninggalkan larangan adalah bentuk nyata berasal dari taubat.

Cara Melebur Dosa dengan Bertaubat Kepada Allah

Taubat seringkali diidentikkan bersama momen di mana seorang hamba mengakui kesalahannya kepada Allah dan berjanji untuk tidak mengulang dosa yang telah lalu.

Berikut ini adalah tuntunan cara bertaubat kepada Allah:

Segera Melakukan Sholat Taubat

Sudah sepantasnya bagi seorang muslim untuk bersemangat dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah Ta’ala, mendekatkan diri pada-Nya, dan tidak terjerumus didalam kubangan maksiat.

Namun, sebagai seorang hamba tentu kita tidak luput dari dosa-dosa. Karena itu, Allah memberikan kesempatan kepada setiap hambanya untuk bertaubat.

Dosa yang dilakukan oleh makhluk sejatinya untuk menunjukan sifat Al Ghaffaar, yakni Allah yang Maha Pengampun.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.” [QS. Taha: 82]

Karena itu, apabila kita terlajur terjerumus kepada dosa maka sebaiknya kita segera melakukan Sholat Taubat.

Shalat taubat adalah shalat yang disunnahkan berdasarkan kesepakatan empat madzhab. Hal ini berdasarkan hadits Abu Bakr Ash Shiddiq, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah seorang hamba melakukan dosa kemudian ia bersuci dengan baik, kemudian berdiri untuk melakukan shalat dua raka’at kemudian meminta ampun kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuninya.”

Kemudian beliau membaca ayat ini,

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”

[HR. Tirmidzi no. 406]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menyunnahkan shalat taubat ketika seseorang benar-benar ingin bertaubat. Berikut tuntunannya:

  1. Berwudhu dengan sempurna. Apabila tidak mampu, maka bertayamum.
  2. Shalat Taubat dilakukan dua raka’at dengan niat di dalam hati, tanpa perlu melafazhkan bacaan tertentu.
  3. Boleh dilakukan kapan saja, siang atau malam.
  4. Segera melakukan sholat taubat setelah mengingat Allah dari dosa yang telah lalu.
  5. Memenuhi syarat-syarat taubat

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

“Demikian pula shalat taubat (termasuk shalat yang memiliki sebab dan harus segera dilakukan, sehingga boleh dilakukan meskipun waktu terlarang untuk shalat. Jika seseorang berbuat dosa, maka taubatnya itu wajib, yaitu wajib segera dilakukan. Dan disunnahkan baginya untuk melaksanakan shalat taubat sebanyak dua raka’at. Lalu ia bertaubat sebagaimana keterangan dalam hadits Abu Bakr Ash Shiddiq.”

[Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah]

(Baca Juga: Rahasia di Balik Taubat)

Syarat-Syarat Taubat

Setelah kita mengetahui bagaimana cara melakukan shalat taubat, hendaknya kita juga harus memenuhi syarat-syarat taubat.

Secara ringkas dikatakan oleh para ulama sebagaimana disampaikan Ibnu Katsir,

“Menghindari dosa untuk saat ini. Menyesali dosa yang telah lalu. Bertekad tidak melakukannya lagi di masa akan datang. Lalu jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya/ mengembalikannya.”

[Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 14/61, Muassasah Qurthubah]

Adapun, dalam kitab Majalis Syahri Ramadhan, setelah membawakan banyak dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang mendorong kaum Muslimin, Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin mengatakan bahwa taubat yang diperintahkan Allâh Azza wa Jalla adalah taubat nasuha (yang tulus) yang mencakup lima syarat, yaitu:

Bertaubat dengan Ikhlas

Hendaknya taubat itu dilakukan dengan ikhlas. Artinya, yang mendorong dia untuk bertaubat adalah kecintaannya kepada Allah Azza wa Jalla , pengagungannya terhadap Allah, harapannya untuk pahala disertai rasa takut akan tertimpa adzab-Nya.

Taubat harus dilakukan semata-maka karena Allah. Bukan karena sebab makhluk atau tujuan duniawi.

Menyesali Dosa yang Telah Lalu

Menyesali serta merasa sedih atas dosa yang pernah dilakukan, sebagai bukti penyesalan yang sesungguhnya kepada Allâh dan luluh dihadapan-Nya serta murka pada hawa nafsunya sendiri yang terus membujuknya untuk melakukan keburukan.

Taubat seperti ini adalah taubat yang benar-benar dilandasi akidah, keyakinan dan ilmu.

Cara bertaubat sebagaimana dikatakan oleh Malik bin Dinar. Ia berkata,

“Menangisi dosa-dosa itu akan menghapuskan dosa-dosa sebagaimana angin mengeringkan daun yang basah.”

[Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam]

Segera Berhenti dari Perbuatan Maksiat

Apabila ia melakukan dosa, maka ia harus segera tinggalkan dan apabila ia meninggalkan suatu yang wajib, maka ia kembali menunaikannya. Dan jika berkaitan dengan hak manusia, maka ia segera menunaikannya atau meminta maaf. Kemudian, ia berusaha untuk tidak mengulangi perbuatan maksiat tersebut.

Seseorang yang bertaubat tetapi ia terus-menerus melakukan perbuatan maksiat maka taubatnya tidak sah. Karena itu, pastikan ketika kita sudah bertaubat maka sebaiknya kita tidak mengulanginya lagi agar syarat taubat ini terpenuhi.

Bertekad untuk Tidak Mengulang Perbuatan Dosa

Bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut di masa yang akan datang. Karena ini merupakan buah dari taubatnya dan sebagai bukti kejujuran pelakunya.

Jika ia mengatakan telah bertaubat, namun ia masih bertekad untuk melakukan maksiat itu lagi di suatu hari nanti, maka taubatnya saat itu belum benar. Karena taubatnya hanya sementara, si pelaku maksiat ini hanya sedang mencari momen yang tepat saja.

Taubatnya ini tidak menunjukkan bahwa dia membenci perbuatan maksiat itu lalu menjauh darinya dan selanjutnya melaksanakan ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla.

Taubat Dilakukan Pada Waktu Diterimanya Taubat

Jika taubat itu dilakukan setelah habis waktu diterimanya taubat, maka taubatnya tidak akan diterima.

Berakhirnya waktu penerimaan taubat itu ada dua macam: (Pertama,) bersifat umum berlaku untuk semua orang dan (kedua) bersifat khusus untuk setiap pribadi.  Yang bersifat umum adalah terbitnya matahari dari arah barat. Jika matahari telah terbit dari arah barat, maka saat itu taubat sudah tidak bermanfaat lagi.

Adapun yang bersifat khusus adalah saat kematian mendatangi seseorang. Ketika kematian mendatangi seseorang, maka taubat sudah tidak berguna lagi baginya dan tidak akan diterima.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

“Dan tidaklah taubat itu diterima Allâh dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.” Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.”

[QS. An-Nisa/4:18]

Apabila syarat-syarat taubat itu telah terpenuhi seluruh syaratnya dan diterima, maka Allah akan menghapus dosa-dosa yang ia telah bertaubat darinya, sekalipun jumlahnya sangat banyak.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).

[QS. At Tahrim: 8]

Penutup

Demikian artikel mengenai bagaimana cara beetaubat kami sampaikan. Semoga Allah memudahkan kita untuk selalu taat kepada-Nya dan menjauhi setiap dosa serta menjadikan kita hamba-hamba yang gemar bertaubat atas dosa yang tidak bosan-bosannya dilakukan.

Amiin Yaa Mujibas Saailin.

 

Source:

 

Ficky Septian Ali Seorang Suami, Blogger, Penulis Paruh Waktu, Storyteller, Pemuda Hijrah dan Banyak Lagi.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: