Ficky Septian Ali Blogger, Penulis Paruh Waktu, Storyteller, Pemuda Hijrah dan Banyak lagi.

Akidah Islam

6 min read

akidah islam

Akidah Islam: Menunaikan Hak Allah Atas Hamba

Akidah Islam adalah suatu ikatan yang ada diantara makhluk dan penciptanya dengan keyakinan hati yang disertai pembenaran terhadap sesuatu. Sehingga akidah islam ini juga bisa diartikan tentang keimanan seseorang kepada sang pencipta dengan kemantapan hati tanpa adanya keraguan sedikitpun.

Pernah dalam suatu ketika, pasti kita pernah bertanya untuk apa Allah menciptakan kita? Apakah kita memiliki ikatan dengan Allah?

Allah Ta’ala berfirman,

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (ibadah) kepada-Ku.”

[QS. Az-Zariyat: 56]

Allah menciptakan kita untuk beribadah kepadaNya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun.

Hal ini adalah landasan yang mendasari bahwa kita sebagai makhluk senantiasa terikat kepada pencipta agar senantiasa hanya beribadah kepada Allah semata dan tidak ada sekutu baginya.

Dan tentu saja karena ikatan ini Allah memiliki hak atas hambaNya agar senantiasa beribadah tanpa sedikitpun menyekutukannya dengan perbuatan syirik. Ibadah yang dimaksud mencakup perkara yang Allah cintai berupa perkataan dan perbuatan.

 

Perendahan Diri Kepada Allah

Ibadah adalah perendahan diri yang hanya boleh diberikan kepada Allah Ta’ala semata. Salah satu bentuk perendahan diri ini ada pada sujud kita ketika melaksanakan sholat untuk meninggikanNya. Ketika sujud kita senantiasa berzikir yang artinya,

“Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi.”

Ibadah juga mencakup terkait perkara seperti berdoa, shalat, penyembelihan dan lain-lain. Allah berfirman,

“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, sembelihanku (Nusuk), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.” [QS. Al-An’am: 162]

Tentu saja kita hanya diperkenankan untuk beribadah hanya kepada Allah semata. Namun, saat ini ternyata masih banyak orang-orang di negeri kita tercinta yang masih berdoa dan meminta-minta kepada selain Allah.

Ironisnya juga masih banyak pelaku kesyirikan yang menyembelih hewan untuk selain Allah, seperti adat istiadat yang masih ada di sekitar kita.

Perbuatan syirik tersebut adalah penghalang ikatan antara hamba dan Allah. Penghalang ini yang menyebabkan negeri kita tercinta masih belum bisa berjaya.

 

Akidah Islam Mengantarkan Kaum Muslimin pada Kemenangan dan Kejayaan

Kaum muslimin akan menang apabila mereka kembali kepada akidah yang benar dan murni. Di mana saat itu kaum muslimin kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat.

Dan mereka (kaum muslimin) menyebarkan dan menyuarakan tauhid dan berhati-hati terhadap kesyirikan dan rupa yang bermacam-macam.

Dan saat itu telah mempersiapkan kekuatan semampu mereka untuk menghadapi musuh.

Ketika kita menolong agama Allah, maka niscaya Allah akan menolong kaum muslimin dan meneguhkan kedudukan dengan kemenangan-kemenangan.

Kemudian saat itu kaum muslimin berjaya.

Allah Ta’ala berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menolong (agama) Allah, niscaya Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

[QS. Muhammad: 7]

Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh dengan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi. Sebagaimana Allah telah menjadikan orang-orang sebelum mereka. Kita semua tahu bahwa Allah yang memberikan kekuasaan dan kerajaan yang luas kepada Nabi Sulaiman Alaihissalam dan Dzulqarnain di muka bumi.

Dan bukan tidak mungkin, Allah akan memberikannya kembali kepada kaum muslimin di waktu-waktu yang akan datang.

Kejayaan dan kemenangan ini hanya bisa didapatkan apabila kaum muslimin telah mengokohkan agama mereka tanpa sedikitpun menyekutukan Allah.

 

Bagaimana Cara Beribadah Kepada Allah?

Ibadah adalah puncak kecintaan yang disertai dengan ketundukan dan perendahan diri. Karena itu ibadah harus didasari dengan rasa cinta, takut dan berharap kepada Allah. Tentu saja dengan mempersembahkan ibadah hanya kepada Allah semata.

Ibadah harus ihsan, yakni senantiasa merasa diawasi Allah ta’ala. Kita harus beribadah kepada Allah seakan-akan kita melihatNya. Dan apabila kita tidak melihatnya, maka sesunggunya Allah selalu melihatmu.

Allah ta’ala berfirman,

“Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihat kamu ketika kamu berdiri dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.”

[QS. Asy Syu’ara: 217-219]

Ibadah yang terbaik haruslah sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah dan Rasulnya, tanpa menambah dan menguranginya sedikit pun.

Hal ini dikarenakan agama Islam telah sempurna, maka sudah cukup dengan ibadah yang diwajibkan dan disunnahkan saja. Tidak perlu menggabungkannya dengan ajaran lain, apalagi membuat ajaran-ajaran baru yang tidak sesuai dengan ketentuan Al Qur’an dan As Sunnah.

Allah Azza Wa Jalla berfirman,

“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …”

[Al-Maa-idah: 3]

Jadi menambah dan membuat ajaran-ajaran baru ini belum tentu Allah ridhai. Karena itu, saya ingin mengajak teman-teman pembaca agar senantiasa tetap dengan ajaran yang murni. Sebagaimana yang terus dilanjutkan dari generasi sahabat sampai kepada kita saat ini.

Sebagai hamba yang beriman, kita harus senantiasa mentaati Allah dan Rasul. Kemudian janganlah kita sampai membatalkan amalan-amalan yang telah dilakukan, hanya karena mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

“Siapa saja yang mengamalkan suatu amalam yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak (yakni tidak diterima).”

[HR. Muslim: 1718]

 

Meminta dan Memohon Pertolongan Hanyalah Kepada Allah

Salah satu hal yang ingin saya singgung pada artikel kali ini adalah berkaitan dengan memohon dan meminta pertolongan yang hanya Allah semata yang bisa mengabulkannya.

Saat ini marak terjadi penyimpangan-penyimpangan di dalam agama kita yang sampai masuk kepada kategori syirik besar (Syirik Akbar).

Syirik besar adalah memalingkan ibadah kepada selain Allah. Seperti berdoa kepada selain Allah, meminta atau memohon pertolongan kepada orang yang sudah mati dan lainnya.

Kita hanya boleh meminta dan memohon pertolongan kepada Allah terkait dengan hal-hal yang mana hanya Allah saja yang bisa mengabulkan. Misalnya seperti meminta rezeki, meminta anak, meminta hujan dan lain sebagainya.

Namun, masih saja bisa kita temukan disekitar kita ada yang meminta pertolongan kepada selain Allah. Seperti meminta rezeki di kuburan dan lain sebagainya.

Bagaimana mungkin ada seseorang yang bisa meminta rezeki di kuburan hanya karena beranggapan dahulunya penghuni kubur tersebut adalah orang shalih.

Sementara orang di dalam kubur tersebut tidak bisa mendengar permintaan dan permohonan orang tadi. Justru orang yang di dalam kubur itu yang sebenarnya membutuhkan pertolongan, malah dimintai pertolongan.

Orang-orang yang sudah meninggal tidaklah mungkin bisa mendengar doa. Dunia yang saat ini kita tinggali berbeda dengan alam barzakh yang menjadi batas dengan akhirat. Mereka tidaklah mendengar apapun yang saat ini disuarakan di dunia.

Allah ta’ala berfirman yang artinya,

“Sesungguhkan engkau tidak bisa menjadikan orang yang mati bisa mendengar.”

[QS. An-Naml: 80]

Hal ini menunjukan bahwa orang mati tidaklah mememiliki kekuatan apapun, sekalipun untuk mendengarkan suara yang ada di dunia.

Dan segala macam hal yang berkaitan dengan syirik besar ini menyebabkan dosa besar karena telah menyekutukan Allah. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala yang artinya,

“Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang sangat besar.”

[QS. Luqman: 13]

Adapun doa tidaklah membutuhkan perantara seseorang, karena itu biasakan untuk berdoa dan langsung meminta pertolongan kepada Allah.

 

Larangan Menyanjung Nabi Berlebihan

Jangankan orang biasa yang sudah mati, kita juga dilarang berdoa dan bersumpah kepada selain Allah bahkan kepada Nabi Muhammad sekalipun. Karena Allah lebih berhak dan lebih kuasa atas segala sesuatu. Seandainya Nabi Muhammad bisa mengabulkan sesuatu, tentu seharusnya Nabi mampu membuat pamannya Abu Thalib memeluk islam. Nabi Muhammad sendiri tidak bisa membantu untuk memberikan petunjuk / hidayah kepada pamannya saat itu. Allah berfirman,

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”

[QS. Al-Qashsas: 56]

Karena itu, tidak sepatutnya bagi kita berlebih-lebihan dalam menyanjung Rasul. Jangan sampai menganggap seperti Allah yang berhak akan segala sesuatu.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam menyanjungku, sebagaimana orang-orang Nasrani yang berlebih-lebihan dalam menyanjung Isa bin Maryan. Aku hanyalah seorang hamba, maka ucapkanlah: Hamba Allah dan RasulNya.”

[HR. Al-Bukhari]

Allah juga berfirman yang artinya,

“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Allah itu adalah sesembahan yang esa”.  [QS. Al-Kahfi:110]

 

Akidah Islam Tentang Di mana Allah

Saat ini ada banyak sekali yang menyebutkan bahwa Allah berada di mana-mana. Namun, tentu saja ini jelas melenceng dari apa yang sudah ditetapkan.

Akidah Islam yang benar terkait Allah adalah akidah yang mengatakan bahwa Allah berada di atas ‘arsy yang berada di atas langit. Bahkan Imam ke empat madzhab juga sepakat terkait hal ini.

(Baca juga: Empat Imam Madzhab Sepakat Bahwa Allah Berada di Atas Langit)

Allah ta’ala berfirman yang artinya,

“Allah Yang Maha Pemurah yang beristiwa’ di atas ‘arsy.”

[QS. Thaha: 5]

Seorang muslim yang memiliki akidah yang benar seharusnya mengatakan bahwa Allah berada di atas ‘arsy. Tentu saja bukan berarti Allah butuh terhadap ‘arsy. Sebagaimana Allah menyampaikan wahyu kepada Nabi melalui Malaikat Jibril.

Allah menghendaki untuk berada di atas ‘arsy dan Allah sama sekali tidak butuh dengan ‘arsy, justru ‘arsy yang butuh kepada Allah. Allah juga yang menghendaki untuk menyampaikan wahyu melalui Malaikat Jibril.

Jadi ini sudah cukup menjawab tuduhan apabila Allah berada di atas ‘arsy maka Allah butuh ‘arsy.

Allah juga tidak butuh terhadap ibadah-ibadah kita, justru kita yang butuh dan harus beribadah. Allah menghendaki agar hamba-hambanya beribadah kepadanya.

Sederhananya seperti itu.

Allah berada di atas ‘arsy dan senantiasa tetap dekat dengan kita. Allah bersama kita dengan pendengaranNya, penglihatanNya dan ilmuNya.

 

Syarat-syarat Diterimanya Amalan

Adapun syarat-syarat diterimanya amalan di sisi Allah, diantaranya:

  1. Beriman kepada Allah dengan mentauhidkannya.
  2. Ikhlas yaitu beramal karena Allah tanpa riya’ dan sum’ah.
  3. Melakukan amalan sesuai dengan ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa salam.

Setelah itu istiqamah dan senantiasa memurnikan ketaatan hanya kepadaNya. Tentunya dengan memurnikan akidah kita, di mana selalu memegang teguh Al Qur’an dan As Sunnah sebagaimana pemahaman para sahabat.

Al Qur’an terkait dengan hal yang langsung dari Allah dan As Sunnah berkaitan dengan Nabi.

Kemudian, salah satu penyebab dari tertolaknya amalan adalah karena mengerjakan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam.

Beramal dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits

Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk agar kita mengamalkannya. Karena itu, penulis ingin mengajak teman-teman pembaca untuk membaca dan beramal dengan Al-Qur’an.

Allah ta’ala berfirman,

“Ikutilah apa yang telah diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian.”

[QS. Al-A’raf: 3]

Kemudian diwajibkan pula kepada kita agar berpegang teguh dengan Sunnah (Hadits Sahih). Tentu saja terkait ajaran-ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad dan para khalifah yang mendapatkan petunjuk.

Allah ta’ala berfirman yang artinya,

“Dan setiap yang Rasul berikan kepada kalian, ambilah. Dan setiap yang beliau larang, maka tinggalkanlah.”

[QS. Al-Hasyr:7]

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

“Aku wasiatkan pada kalian untuk bertakwa kepada Allah serta mendengarkan dan mentaati (pemerintah Islam), meskipun yang memerintah kalian seorang budak Habsyi. Dan sesungguhnya orang yang hidup sesudahku di antara kalian akan melihat banyak perselisihan. Wajib kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin Mahdiyyin (para pemimpin yang menggantikan Rasulullah, yang berada di atas jalan yang lurus, dan mendapatkan petunjuk). Berpegang teguhlah kalian padanya dan gigitlah ia dengan geraham-geraham kalian. Serta jauhilah perkara-perkara yang baru. Karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat.“

[Sahih Riwayat Ahmad]

Sebagai seorang mukmin, kita tidak bisa mencukupkan diri dengan Al Qur’an tanpa Hadits. Bayangkan tanpa adanya Hadits ini kita tidak akan tahu bagaimana tata cara Sholat dan lainnya.

Karena itu, kita harus berpegang teguh kepada keduanya dan tentu saja harus dengan pemahaman yang lurus.

 

Demikian artikel ini dibuat.

Sejatinya artikel ini adalah sedikit rangkuman dari kitab Khudz Aqidataka karya dari Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu. Kebetulan saya mendapatkan kesempatan untuk mengkaji di Dauroh Indonesia Bertauhid bersama Ustadz Raehanul Bahrain di Masjid Pogung Dalangan.

 

Saya juga menerima kritik dan saran. Mohon diberikan nasihat apabila ada kesalahan kata dan lainnya.

Terima kasih telah membaca artikel sampai dengan baris ini. Semoga bermanfaat.

 

Salam hangat,

Ficky Septian Ali

 

Ficky Septian Ali Blogger, Penulis Paruh Waktu, Storyteller, Pemuda Hijrah dan Banyak lagi.