Ficky Septian Ali Blogger, Penulis Paruh Waktu, Storyteller, Pemuda Hijrah dan Banyak lagi.

Memilih Manhaj Salaf

4 min read

memilih manhaj salaf

Mengapa Harus Memilih Manhaj Salaf?

Jujur. Sebelumnya saya adalah seseorang yang sangat skeptis dengan Manhaj Salaf dan saya tidak pernah sekalipun berniat untuk memilih manhaj ini. Apalagi katanya orang yang sudah memilih manhaj salaf identik dengan suka membid’ahkan.

Tapi tuduhan tersebut tidak benar. Saya sendiri termasuk bagian dari orang-orang yang termakan provokasi untuk membenci dakwah salaf. Semakin diprovokasi ternyata membuat saya semakin penasaran.

Saat itu, perlahan rasa ingin tahu saya pun bertambah dan saya putuskan untuk mencoba ikut dauroh di Masjid Agung Daarussalam Purbalingga saat liburan semester.

Seumur hidup baru pertama kalinya saya menemukan jamaah yang sholat dari Shaf yang paling depan sampai dengan Shaf yang paling belakang serapat ini.

Saya tidak tahu mengapa saya langsung jatuh cinta dengan Manhaj Salaf saat itu. Adapun setiap harinya perlahan saya mulai belajar dan ikut datang dalam berbagai majelis ilmu dengan tema Tauhid.

Salah satu hal yang paling saya cintai dari Manhaj ini adalah terkait segala macam keputusan yang dikembalikan kepada Al Qur’an dan As Sunnah.

 

Kewajiban Mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah

Saya terlahir sebagai seorang muslim dan saya beribadah berdasarkan apa yang saya lihat. Saat itu, saya hanya berfikir untuk meneruskan tradisi.

Dan ternyata perlahan-lahan saya tahu bahwa ada beberapa tradisi yang jatuh pada kesyirikan dan menyelisihi Al Qur’an dan As Sunnah.

Beberapa tradisi tentu sangat sakral bagi mereka dan sudah menjadi lahan bisnis. Mungkin hal ini yang menyebabkan dakwah tauhid cukup sulit untuk diterima.

Seorang muslim tentu dituntut untuk senantiasa mencari dan memilih jalan yang lurus.

Dalam surat Al Fatihah yang senantiasa kita baca setiap shalat, terkandung permohonan doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar kita senantiasa diberi hidayah di atas jalan yang lurus. Kita selalu membaca firman Allah yang artinya,

“(Ya Allah). Tunjukilah kami jalan yang lurus (shiratal mustaqim), yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat “

[QS. Al Fatihah:6-7]

(Baca Juga: Makanan Bergizi Bagi Hati untuk Meningkatkan Kadar Iman)

 

Apa itu jalan yang lurus?

Jalan yang lurus adalah jalan Al-Haqq, yaitu memiliki arti kebenaran dan kemantapan atau kepastian sesuatu. Tentunya jalan yang lurus hanya bisa kita dapati pada Al Qur’an dan As Sunnah.

Jalan yang lurus ini adalah jalan yang dibawah oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dan sahabat-sahabatnya.

Kenapa?

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam adalah penerima wahyu. Al Qur’an mutlak adalah Kalamullah, firman Allah kepada Rasul yang wajib ditaati oleh umat muslim.

Sementara para Sahabat adalah orang-orang yang mendengar firman Allah tersebut langsung dari Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Termasuk hal-hal yang senantiasa dicontohkan oleh Nabi yang kita kenal dengan Sunnah.

Segala sesuatu yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam yang bukan berupa Al-Quran, baik berupa segala perkataan, perbuatan dan pengakuan (persetujuan), yang patut (baik) dijadikan dalil hukum syar’i (agama) adalah Sunnah.

As-Sunnah menurut ulama Salaf adalah petunjuk yang dilaksanakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya, baik tentang ilmu, i’tiqaad (keyakinan), perkataan maupun perbuatannya.

Siapa orang-orang yang mendapatkan petunjuk langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Mereka tentu adalah para sahabat dari generasi-generasi pertama umat muslim. Dimana para sahabat melihat dan mendapatkan petunjuk langsung dari Nabi yang kemudian dilanjutkan kepada tabi’in dan kemudian tabiit tabiin yang saat ini kita kenal sebagai Para Salaf.

Para Salaf disini maksudnya adalah generasi sahabat Nabi, tabiin dan tabiit tabiin. Sahabat adalah orang yang pernah bertemu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam keadaan beriman dan meninggal dalam keadaan muslim.

Sedang tabi’in adalah para murid sahabat yang tegak dan berjalan diatas ajaran Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan petunjuk para sahabat.

Adapun tabi’it tabi’in adalah para murid tabi’in yang istiqamah dalam ajaran dan petunjuk para sahabat yang diajarkan para tabi’in pada mereka.

 

Meneladani Sahabat Nabi

Sebagai seorang muslim, kita harus mulai belajar bagaimana cara meneladani dan meniru akhlak para Sahabat Nabi.

Para Sahabat adalah generasi-genarasi terdepan yang telah mendapatkan ridho dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Imam Ahmad rahimahullah berkata,

“Menurut pendapat kami, pokok-pokok sunnah adalah berpegang teguh dan meneladani apa yang dijalani oleh para sahabat Rasulullah.”

Mereka adalah Sahabat Nabi dari kalangan Muhajirin dan Anshar yang telah mendapatkan ridho langsung dari Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”

[QS. At-Taubah:100]

Ketika seorang muslim mengaku mengikuti perintah Rasul, maka seharusnya ia mengikuti jalan yang ditempuh para Sahabat. Tentunya, karena para Sahabat mengikuti jejak Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dan telah diberikan jalan yang Allah ridho kepadanya.

Seorang muslim yang mengaku mengikuti Al Qur’an, maka ia harus mengikuti As Sunnah. Al Qur’an dan As Sunnah, keduanya tentu tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Hal ini menjadikan bahwa mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah adalah mutlak untuk seorang muslim. Begitu pula dengan mengikuti jejak para Sahabat, karena Nabi sendiri memerintahkan kita untuk mengikuti jalan yang ditempuh para Sahabat.

(Baca juga: Keutamaan Mengajarkan Tauhid Untuk Anak)

 

Manhaj Salaf dan Akidah yang Lurus

Sebagai seorang muslim kita tidak boleh berislam menggunakan pemahaman sendiri. Kita harus menggunakan pemahaman Sahabat Nabi yang diteruskan oleh tabiin dan tabiit tabiin sampai pada generasi sekarang.

Generasi yang berpegang teguh pada Al Qur’an dan As Sunnah adalah generasi-generasi yang senantiasa mendapatkan ridho dari Allah. Karena itu, Manhaj Salaf ini tidak akan pernah hilang oleh zaman.

Selama masih berpegang teguh pada Al Qur’an dan As Sunnah dengan menggunakan pemahaman sahabat, generasi kita akan berada di Akidah yang lurus.

Akidah yang benar dan Akidah yang bersih. Akidah yang tidak membuat kerusakan di muka bumi.

Akidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah adalah akidahnya orang-orang yang berpegang teguh pada Al Qur’an dan As Sunnah. Akidahnya orang-orang yang mengikuti jejak para sahabat Nabi yang telah mendapatkan ridho dari Allah.

Akidah Islam, yaitu akidahnya Ahlus Sunnah Wal Jamaah bersandar pada Wahyu. Akidah yang berpijak pada ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya.

Akidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah adalah akidah As Salafush Shalih.

 

Penutup

Wahai Saudaraku,

Banggalah kalian dengan Islam! Berbahagialah dengan Islam!

Allah telah menyempurnakan Islam, sehingga kita (umat Islam) tidak perlu lagi menambah ajaran Rasul selamanya dan Allah pun telah membuat ajaran Islam itu sempurna sehingga jangan sampai dikurangi selamanya. Jika Allah telah ridho, maka janganlah ada yang murka dengan ajaran Islam selamanya.

 

Terima kasih telah membaca sampai dengan baris ini. Semoga artikel pada blog ini dapat membantu memantapkan hati untuk memilih Manhaj Salaf.

 

Tulisan ini terinspirasi dari Kajian yang dibawakan Ustadz Afifi Abdul Wadud di Masjid Pogung Raya dengan Tema “Praktek Bermanhaj Salaf”.

 

Rujukan:
Muslim.or.id
Almanhaj.or.id
Muslimah.or.id
Rumaysho.com

Video Kajian “Praktek Bermanhaj Salaf”:
https://youtu.be/iotTjVelSJ8

 

 

Ficky Septian Ali Blogger, Penulis Paruh Waktu, Storyteller, Pemuda Hijrah dan Banyak lagi.