Di antara alamat kebaikan yang patut disyukuri dan dijaga oleh setiap muslim. Banyak manusia mengira bahwa tanda kebaikan dari Allah hanya berupa kelapangan rezeki, sehatnya badan, mudahnya urusan, atau tercapainya keinginan dunia.
Padahal, kebaikan yang paling agung bukan hanya ketika dunia terasa lapang. Kebaikan yang besar adalah ketika Allah membukakan hati seorang hamba untuk mengenal agama-Nya, memahami petunjuk-Nya, bertaubat dari dosa, dan berjalan di atas ketaatan.
Rasulullah ﷺ bersabda,
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan pahamkan ia dalam urusan agama.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
Hadits ini menunjukkan bahwa dipahamkan dalam agama adalah tanda kebaikan yang sangat besar. Ketika seseorang mulai mencintai ilmu, tersentuh oleh nasihat, terdorong untuk memperbaiki diri, dan berusaha mengikuti tuntunan Nabi ﷺ, maka itu adalah nikmat yang wajib disyukuri.
Namun perlu diingat, kita tidak boleh memastikan keadaan batin seseorang atau memastikan bahwa semua hal yang terjadi pasti bermakna tertentu. Urusan hati, hidayah, dan akhir kehidupan seseorang berada di tangan Allah. Yang bisa kita lakukan adalah mengambil pelajaran dari tanda-tanda kebaikan secara umum, lalu memohon agar Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang diberi taufik.
Berikut tujuh tanda Allah menginginkan kebaikan untuk seorang hamba yang patut direnungkan dan dijaga:
Daftar Isi
1. Dimudahkan untuk Belajar Agama
Di antara tanda paling jelas bahwa Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba adalah ketika ia dimudahkan untuk memahami agama.
Dulu mungkin ia merasa berat menghadiri majelis ilmu. Dulu mungkin ia malas membaca Al-Qur’an. Dulu mungkin nasihat agama terasa biasa saja. Namun perlahan hatinya mulai berubah.
Ia mulai senang mendengar kajian. Ia mulai ingin belajar tentang tauhid, shalat, adab, halal dan haram, serta jalan hidup yang diridhai Allah. Ia mulai menyadari bahwa ilmu agama bukan sekadar tambahan, tetapi kebutuhan utama bagi hidupnya.
Ini adalah nikmat yang sangat besar.
Sebab seseorang tidak akan mampu beribadah kepada Allah dengan benar kecuali dengan ilmu. Dengan ilmu, ia mengenal Rabb-nya. Dengan ilmu, ia memahami tujuan hidupnya. Dengan ilmu, ia dapat membedakan antara petunjuk yang benar dan perkara yang menyelisihi tuntunan agama.
Rasulullah ﷺ telah menjelaskan bahwa orang yang Allah kehendaki kebaikan akan dipahamkan dalam agama. Maka jika Allah mulai bukakan hati kita untuk belajar agama, jangan sia-siakan nikmat tersebut.
Hadirilah majelis ilmu. Bacalah Al-Qur’an. Pelajarilah hadits-hadits Nabi ﷺ. Ambillah ilmu dari orang-orang yang dikenal lurus aqidahnya, benar manhajnya, dan amanah dalam menyampaikan agama.
Karena ilmu agama adalah cahaya. Dengannya seorang hamba berjalan menuju Allah dengan bimbingan, bukan dengan sekadar perasaan.
2. Diberi Kesadaran untuk Bertaubat
Tanda kebaikan berikutnya adalah ketika Allah menumbuhkan kesadaran dalam hati seorang hamba untuk bertaubat.
Seseorang yang dahulu terbiasa melakukan dosa tanpa merasa bersalah, tiba-tiba mulai gelisah setelah bermaksiat. Ia merasa malu kepada Allah. Ia menyesal. Ia ingin berubah. Ia ingin meninggalkan kebiasaan buruk yang selama ini menjauhkan dirinya dari ketaatan.
Ini bukan perkara kecil.
Rasa penyesalan setelah melakukan dosa adalah nikmat yang patut disyukuri. Sebab hati yang masih bisa menyesal adalah hati yang masih hidup. Hati yang masih merasa takut kepada Allah adalah hati yang masih memiliki harapan untuk kembali.
Rasulullah ﷺ bersabda,
“Penyesalan adalah taubat.” [HR. Ibnu Majah, dinilai shahih oleh sebagian ulama]
Seorang muslim tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. Sebesar apa pun dosa yang pernah dilakukan, pintu taubat masih terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan matahari belum terbit dari barat.
Allah Ta’ala berfirman,
“Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. Az-Zumar: 53]
Maka jika hari ini hati kita mulai risih dengan dosa, jangan abaikan. Segeralah kembali kepada Allah. Perbanyak istighfar. Tinggalkan maksiat. Iringi kesalahan dengan amal shalih. Dan mohonlah kepada Allah agar diberi keistiqamahan.
Karena taubat adalah pintu kebaikan yang sangat luas.
(Baca Juga: Gagal di Muda Itu Bekal, Gagal di Tua Bisa Jadi Masalah)
3. Diuji agar Kembali kepada Allah
Tidak semua ujian berarti keburukan.
Bagi seorang mukmin, sempitnya urusan dunia bisa menjadi sebab ia kembali mengingat akhirat. Sakit, kehilangan, kesulitan rezeki, kegelisahan hati, atau urusan yang terasa berat dapat menjadi pengingat bahwa manusia adalah hamba yang lemah dan selalu membutuhkan Allah.
Namun dalam hal ini kita perlu berhati-hati. Ujian tidak selalu bermakna sama bagi setiap orang. Ia bisa menjadi penghapus dosa, pengangkat derajat, teguran, atau peringatan. Hakikatnya Allah yang paling mengetahui.
Yang penting bagi seorang hamba adalah bagaimana ia menyikapi ujian tersebut.
Jika ujian membuatnya semakin sabar, semakin banyak berdoa, semakin jujur dalam taubat, semakin khusyuk dalam shalat, dan semakin dekat kepada Allah, maka ujian itu menjadi jalan kebaikan baginya.
Rasulullah ﷺ bersabda,
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik baginya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu baik baginya.” [HR. Muslim]
Hadits ini menunjukkan bahwa kebaikan seorang mukmin bukan hanya ketika ia mendapatkan nikmat, tetapi juga ketika ia mampu bersabar saat diuji.
Maka jangan tergesa-gesa menilai ujian sebagai keburukan. Bisa jadi melalui ujian itu Allah sedang membukakan pintu muhasabah. Bisa jadi Allah mengingatkan kita agar berhenti dari kelalaian. Bisa jadi Allah ingin kita lebih sering menengadahkan tangan dalam doa.
Yang terpenting bukan sekadar ujiannya hilang, tetapi apakah ujian itu membuat kita semakin dekat kepada Allah atau justru semakin jauh dari-Nya.
4. Dimudahkan untuk Melakukan Ketaatan
Di antara tanda kebaikan yang sangat berharga adalah ketika Allah memudahkan seorang hamba untuk melakukan ketaatan.
Shalat yang dahulu terasa berat mulai menjadi kebutuhan. Membaca Al-Qur’an yang dahulu jarang dilakukan mulai terasa menenangkan. Sedekah yang dahulu terasa sulit mulai menjadi ringan. Bangun malam yang dahulu terasa berat mulai dicoba sedikit demi sedikit.
Tidak ada seorang pun yang mampu taat kecuali dengan pertolongan Allah.
Karena itu, ketika kita dimudahkan untuk melakukan amal shalih, jangan merasa hebat. Jangan merasa diri lebih baik daripada orang lain. Sebab taufik untuk beramal adalah karunia Allah, bukan semata-mata kekuatan diri kita.
Betapa banyak orang memiliki waktu, tetapi tidak dimudahkan untuk shalat. Betapa banyak orang memiliki harta, tetapi tidak dimudahkan untuk bersedekah. Betapa banyak orang memiliki kesehatan, tetapi tidak dimudahkan untuk menghadiri majelis ilmu.
Maka jika Allah mudahkan kita dalam ketaatan, syukurilah.
Jaga shalat. Perbanyak dzikir. Bacalah Al-Qur’an. Biasakan sedekah. Berusahalah menjaga lisan. Dan lakukan amal shalih secara bertahap namun terus-menerus.
Rasulullah ﷺ bersabda,
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling terus-menerus dilakukan, meskipun sedikit.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
Ketaatan yang kecil namun dijaga lebih baik daripada semangat sesaat yang cepat hilang. Maka mintalah kepada Allah agar diberi hati yang istiqamah.
5. Dijauhkan dari Teman dan Urusan yang Melalaikan
Terkadang, dijauhkannya seseorang dari lingkungan yang buruk bisa menjadi salah satu sebab kebaikan yang Allah bukakan untuknya.
Mungkin ada teman yang perlahan menjauh. Mungkin ada lingkaran pergaulan yang tidak lagi terasa nyaman. Mungkin obrolan sia-sia yang dulu terasa menyenangkan kini mulai terasa hambar. Mungkin tempat-tempat maksiat yang dulu biasa didatangi kini mulai terasa menyesakkan hati.
Jangan selalu bersedih ketika Allah menjauhkan kita dari sesuatu yang melalaikan.
Bisa jadi Allah sedang menyelamatkan kita dari pengaruh yang merusak agama. Bisa jadi Allah ingin mengganti lingkungan kita dengan orang-orang yang lebih baik. Bisa jadi Allah sedang membukakan jalan agar kita lebih mudah menjaga hati dan amal.
Teman memiliki pengaruh besar terhadap agama seseorang.
Rasulullah ﷺ bersabda,
“Seseorang itu berada di atas agama teman dekatnya. Maka hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan siapa yang ia jadikan teman dekat.” [HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dinilai hasan oleh sebagian ulama]
Teman yang baik akan mengingatkan ketika kita lalai. Ia mengajak kepada ketaatan, bukan kepada maksiat. Ia membuat kita malu berbuat dosa, bukan meremehkannya. Ia menolong kita mendekat kepada Allah, bukan menjauhkan kita dari-Nya.
Maka jika hati kita mulai tidak nyaman dengan obrolan sia-sia, lingkungan buruk, dan kebiasaan yang melalaikan, bersyukurlah. Itu bisa menjadi awal perubahan yang baik.
Mintalah kepada Allah agar diberi teman-teman yang shalih, yang mencintai ilmu, menjaga lisan, dan mengingatkan kepada akhirat.
(Baca Threads: Umroh Mandiri dari Jogja Rp18Jta an Saja)
6. Diberi Rasa Cinta kepada Sunnah
Di antara tanda kebaikan yang besar adalah ketika Allah menumbuhkan kecintaan kepada sunnah Nabi ﷺ.
Seseorang mulai ingin mengetahui bagaimana Rasulullah ﷺ beribadah. Ia mulai memperhatikan shalatnya, dzikirnya, puasanya, adabnya, pakaiannya, pergaulannya, dan akhlaknya.
Ia tidak lagi cukup hanya dengan semangat beragama. Ia ingin beragama dengan ilmu dan tuntunan.
Cinta kepada sunnah bukan sekadar tampilan luar, meskipun tampilan yang sesuai syariat juga termasuk bagian dari ketaatan. Cinta kepada sunnah mencakup aqidah, ibadah, akhlak, muamalah, cara berpikir, dan cara menyikapi kehidupan.
Orang yang mencintai sunnah akan berusaha mendahulukan petunjuk Nabi ﷺ di atas hawa nafsu, tradisi, kebiasaan masyarakat, atau sekadar tren manusia.
Ia ingin shalat sebagaimana Nabi ﷺ mengajarkan shalat. Ia ingin berakhlak sebagaimana Nabi ﷺ mengajarkan akhlak. Ia ingin menjauhi perkara yang tidak dituntunkan dalam agama. Ia ingin memahami agama sebagaimana generasi terbaik memahaminya.
Jalan keselamatan adalah berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Mereka adalah generasi terbaik umat ini, yang menyaksikan turunnya wahyu dan belajar langsung dari Rasulullah ﷺ.
Maka ketika hati kita mulai mencintai sunnah, jagalah nikmat itu. Jangan tukar dengan pujian manusia, popularitas, atau kenyamanan dunia.
Karena kemuliaan seorang muslim bukan pada mengikuti apa yang disukai manusia, tetapi pada mengikuti apa yang Allah dan Rasul-Nya cintai.
7. Diberi Harapan untuk Husnul Khatimah
Di antara kebaikan terbesar yang diharapkan oleh setiap muslim adalah diwafatkan dalam keadaan beriman dan taat kepada Allah.
Husnul khatimah adalah akhir kehidupan yang baik. Seorang hamba wafat di atas tauhid, iman, dan amal shalih. Ini adalah nikmat besar yang tidak bisa diperoleh kecuali dengan rahmat dan taufik dari Allah.
Kita berharap kebaikan bagi seorang muslim yang wafat dalam keadaan tampak sedang melakukan ketaatan, seperti setelah shalat, ketika berpuasa, membaca Al-Qur’an, atau berada dalam ibadah haji dan umrah. Namun hakikat akhir seseorang tetap berada di sisi Allah.
Karena itu, seorang muslim tidak boleh merasa aman dari ujian akhir kehidupan. Ia harus terus berdoa agar diteguhkan sampai akhir hayat.
Di antara sebab yang diharapkan mengantarkan kepada akhir yang baik adalah membiasakan hidup di atas ketaatan.
Siapa yang terbiasa menjaga shalat, memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, berbakti kepada orang tua, menjaga lisan, dan menjauhi maksiat, maka ia berada di atas jalan yang baik. Kita berharap Allah menutup hidupnya dengan kebaikan.
Sebaliknya, orang yang terbiasa lalai perlu takut jika kelalaiannya terus terbawa hingga akhir hayat.
Maka jangan menunggu tua untuk taat. Jangan menunggu sakit untuk bertaubat. Jangan menunggu kehilangan untuk kembali kepada Allah.
Mulailah dari sekarang.
Karena tidak ada seorang pun yang tahu kapan kematian datang.
Penutup: Jangan Sia-siakan Hidayah
Jika hari ini kita mulai merasakan sebagian dari tanda-tanda kebaikan di atas, jangan abaikan.
Jika hati mulai rindu kepada majelis ilmu, jaga.
Jika mulai malu terhadap dosa, syukuri.
Jika mulai mudah menangis ketika berdoa, pelihara.
Jika mulai ingin memperbaiki shalat, lanjutkan.
Jika mulai tidak nyaman dengan maksiat, tinggalkan.
Jika mulai mencintai sunnah, kuatkan.
Hidayah adalah nikmat yang sangat mahal. Tidak semua orang diberi keinginan untuk kembali. Tidak semua orang diberi kesempatan untuk berubah. Tidak semua orang diberi hati yang masih lembut menerima nasihat.
Maka jangan sombong ketika sudah mulai taat. Jangan merasa aman dari penyimpangan. Jangan meremehkan dosa kecil. Dan jangan berhenti meminta pertolongan kepada Allah.
Allah Ta’ala mengajarkan doa yang agung dalam Al-Qur’an,
“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.” [QS. Ali ‘Imran: 8]
Di antara doa yang sering dipanjatkan Nabi ﷺ adalah,
“Yā Muqallibal qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik.”
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
Maka teruslah meminta keteguhan hati kepada Allah. Sebab hati manusia lemah, sedangkan fitnah dunia sangat banyak.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang Dia kehendaki kebaikan padanya. Semoga Allah memahamkan kita terhadap agama, memudahkan kita untuk bertaubat, menolong kita dalam ketaatan, menjauhkan kita dari kelalaian, menumbuhkan cinta kepada sunnah, dan menutup usia kita dengan husnul khatimah.
Aamiin.





