Arab Saudi Aman: Testimoni Perjalanan Kami di Negeri Para Salaf

Arab Saudi adalah Negara yang Aman

Arab Saudi Aman – Arab Saudi adalah negara yang tenang. Selama kami berada di sana, rasanya hampir tidak pernah terdengar musik mengalun di sudut-sudut kotanya. Tidak seperti banyak kota lain yang selalu punya suara latar, di sini sunyi justru menjadi bagian dari keseharian.

Memang, di jalanan ada saja momen orang-orang yang lebih ekspresif saat berkendara. Klakson sesekali berbunyi, sedikit kontras jika dibandingkan dengan warga Jogja yang relatif lebih santai. Namun anehnya, hiruk-pikuk itu berhenti di batas aspal.

Begitu keluar dari jalan raya, suasananya berubah total. Jalur pejalan kaki terasa lapang, toko-toko berjalan tanpa kebisingan, dan ruang-ruang publiknya memberi kesan tenang yang konsisten. Seolah kota-kota ini sengaja diciptakan untuk tidak tergesa, untuk membiarkan orang bernapas sedikit lebih pelan.

Dan ketenangan inilah yang membuat hati kami terasa aman. Kami menjalani hari dengan lebih nyaman. Langkah terasa lebih ringan, waktu berjalan lebih pelan. Ada ruang untuk benar-benar hadir, memperhatikan hal-hal kecil yang biasanya luput ketika segalanya terlalu riuh.

Kami merasakan tenang itu di Makkah: Takher dan Al Aziziyah

Ya. Tentu hati kami tidak bisa dipisahkan dari Masjid Al Haram. Di sanalah pusat rasa itu bermula. Tempat doa, tempat sujud, tempat manusia belajar mengecilkan diri. Namun menariknya, ketenangan yang kami rasakan tidak berhenti di pelataran masjid.

Ia ikut terbawa ke luar. Menyusup ke tempat kami tinggal. Menjadi suasana yang menemani hari-hari kami di Mekkah, terutama ketika kami berada di dua sub city ini: Takher dan Al Aziziyah.

Takher: gunung batu, kota yang sepi, dan waktu gelap menjelang shubuh

Di Takher, pemandangan gunung-gunung batu hampir selalu terasa hening. Kotanya sendiri belum terlalu ramai, sehingga alam seperti mengambil peran lebih besar daripada manusia. Diamnya bukan kosong, tapi penuh.

Apalagi ketika menginap di Novotel Takher. Suasananya benar-benar memberi ruang untuk diam. Tidak ada dorongan untuk tergesa, tidak ada suara yang memaksa perhatian.

Aku sempat mencoba berjalan di waktu gelap menjelang shubuh. Jalanan sunyi, udara dingin, dan langit masih gelap. Rasanya sangat tenang. Heningnya bukan yang menakutkan, tapi yang meneduhkan. Di situ, rasa aman itu terasa seperti datang pelan-pelan, tanpa perlu dijelaskan.

Al Aziziyah: Metropolitan, Tapi Tetap Tenang Sampai ke Dalam Restaurant

Berbeda dengan Takher, Al Aziziyah bentukannya kota. Rasanya benar-benar metropolitan. Kawasan ini hidup, ramai, dan aktif. Makkah Mall pun ada di sini, menjadi penanda bahwa ini adalah pusat aktivitas orang-orang Makkah.

Kataku pada Istri,

“Mungkin di Al Aziziyah, jantung Kota Makkah itu.”

Yang menarik, ketenangan itu tidak hilang juga. Kami masuk ke restaurant, suasananya tetap tenang. Suara percakapan orang terdengar lebih jelas. Bukan karena orang-orangnya berbicara keras, tapi karena lingkungannya tidak berisik. Seolah telinga kami sedang “dididik” untuk kembali peka.

Maka ketika ada suara yang sedikit lebih keras, otomatis ia menjadi fokus. Suara kicauan burung, misalnya. Bahkan suara langkah kaki pun terasa hadir. Hal-hal kecil yang di negeri kami sering tenggelam oleh kebisingan, di sana justru muncul ke permukaan.

Dan dari situ kami merasa: ketenangan itu seperti mendidik. Mendidik telinga, mendidik hati, dan mendidik cara kami hadir di ruang publik.

Adzan Makkah Menjadi Suara Utama: Ritme Kota yang Membuat Hati Terasa Aman

Di Makkah, adzan bisa dibilang satu-satunya suara dengan volume yang benar-benar menarik perhatian. Tidak seperti di sebagian tempat di Indonesia, di mana di waktu-waktu acak kita bisa tiba-tiba mendengar suara sound system yang keras dari musik di hajatan, event tertentu, atau bahkan dari speaker masjid sekalipun.

Di Saudi, ketika adzan terdengar, dampaknya terasa nyata. Toko-toko tutup. Orang-orang berhenti sejenak. Ritme kota melambat. Manusia menyiapkan diri untuk sholat dan berdoa.

Dan di momen seperti itu, kami kembali merasa: pantas saja hati ini terasa aman. Karena yang memimpin ritme kota bukan kebisingan, melainkan panggilan ibadah.

Ketenangan ini membuat kami takjub. Dan perbedaan suasana inilah yang membuat rasa aman itu begitu terasa. Mungkin, jika sejak awal negeri kami sehening ini, ketika pergi ke Saudi kami akan menganggap semua ini biasa saja.

Namun karena kami baru menemukannya di sana, di situlah keindahan itu hadir.

Madinah: Kota yang Membuat Hati Lebih Mudah Menangis

Di Madinah, yang paling indah tentu Masjid Nabawi. Di sana, hati terasa sangat tenang. Ada rasa yang sulit dijelaskan, selain bahwa di kota ini hati seperti lebih mudah menangis. Bukan karena sedih, tapi karena lapang. Karena merasa dekat.

Suasana “liburan” yang paling kami rasakan justru hadir di tempat yang sederhana. Saat kami pergi ke The Aziziyah Overlook, misalnya. Sebuah area di atas bukit dengan coffee shop, tempat melihat Madinah dari ketinggian. Tidak ada yang berlebihan di sana. Hanya pemandangan kota, udara yang tenang, dan waktu yang berjalan pelan. Tapi justru di situ kami merasa benar-benar istirahat.

Pelajaran yang Ingin Aku Bawa di Indonesia

Mungkin, sikap tenang dari Arab Saudi inilah yang ingin aku bawa pulang ke negeriku, ke Indonesia. Ke rumah, ke kantor, dan ke ruang-ruang kecil tempat kami hidup sehari-hari.

Aku tidak perlu memutar speaker keras-keras hingga tetangga ikut mendengar hal-hal yang sebenarnya tidak perlu mereka dengarkan. Tidak semua harus diumumkan. Tidak semua harus dibunyikan.

Kadang, ketenangan justru adalah bentuk penghormatan. Kepada diri sendiri, dan kepada orang lain.

(Baca Juga: Download Ebook Rambu-Rambu Dakwah – PDF)

Akhlaq yang Kami Lihat: Aurat yang Tertutup dan Suasana yang Terjaga

Selain suara-suara yang terasa menenangkan, pemandangan tentang akhlaq yang kami lihat pun meninggalkan kesan yang dalam.

Di Arab Saudi, laki-laki dan perempuan menutup auratnya. Baik mereka yang warga Saudi, maupun para pendatang.

Perempuan-perempuan yang kami temui banyak yang mengenakan niqab, berjalan dengan tenang, tanpa merasa perlu menjadi pusat perhatian.

Di tengah arus modernisasi, ketika di banyak tempat perempuan justru didorong untuk menampilkan tubuh dan busana yang semakin terbuka, perempuan-perempuan Saudi yang kami lihat memilih bertahan dengan tradisi dan taat pada perintah Allah dan Rasulnya. Mereka menutup wajahnya, bukan karena keterpaksaan, tetapi karena pilihan yang dijalani dengan senang hati.

Sering kali niqab dipersepsikan sebagai simbol pengekangan. Namun yang kami rasakan justru sebaliknya. Mereka terlihat aman. Dan rasa itu terasa nyata bagi kami, terlebih karena istriku juga mengenakan niqab. Aku melihat sendiri bagaimana niqab justru menghadirkan rasa aman, bukan hanya bagi yang mengenakannya, tapi juga bagi kami sebagai keluarga.

Alih-alih Barat bercadar sebagai perempuan lemah, kami memaknainya secara berbeda. Bagi kami, mereka adalah perempuan yang mendapatkan kemenangan. Perempuan yang memilih taat di tengah arus zaman yang terus mendorong ke arah sebaliknya.

Kami tentu memahami realitas ketika bepergian. Jangankan ke luar negeri, masih di Indonesia saja—bahkan masih di Jogja saja—kami dapat melihat perempuan mengenakan busana yang terlalu terbuka, bahkan untuk budaya timur. Dan suasana yang tercipta pun ngeri bagi kaum lelaki. Pandangan menjadi lebih mudah terpancing, menjaga hati terasa lebih berat dan syahwat laki-laki jadi tidak terpelihara.

Di Saudi, suasananya tidak seperti itu. Perempuan-perempuan mereka tertutup, dan itu membantuku untuk dicukupkan dengan perasaan cinta dan setia bersama pasangan sendiri. Tidak terus-menerus diuji oleh visual yang berlebihan. Ruang publik terasa lebih menenangkan, lebih terjaga, dan lebih aman bagi hati.

Dan di titik itu, aku melihat mereka sebagai pahlawan: taat kepada Allah, dan menjaga adab dalam rumah tangga. Pahlawan juga karena melindungi mata para lelaki dan menjaga hati mereka—bukan dengan kekerasan, tapi dengan keteguhan.

(Baca Juga: Panduan Umrah Mandiri Murah, Cuma 18Jtaan Per Pax)

Penutup

Itulah mengapa, selama perjalanan kami di Arab Saudi, rasa aman itu datang bukan hanya dari tempatnya yang tenang, tetapi juga dari suasananya yang menjaga. Dari ritme adzan yang membuat kota berhenti sejenak. Dari ketenangan yang mendidik telinga dan hati. Dan dari akhlaq yang membuat kami merasa nyaman, seolah-olah ruang publik pun ikut mengajarkan adab.

Dari ritme adzan yang membuat kota berhenti sejenak. Dari ketenangan yang mendidik telinga dan hati. Dan dari akhlaq yang membuat kami merasa nyaman, seolah-olah ruang publik pun ikut mengajarkan adab.

Aman yang tidak berisik.
Aman yang tidak memaksa.
Aman yang sungguh menenangkan hati.

Gabung WA Group Ahsan Umrah Mandiri

Gabung WA Group Ahsan Umrah Mandiri dengan klik tombol di bawah ini:
👉 Klik Di Sini
👉 Klik Di Sini
👉 Klik Di Sini

Barakallahu Fiikum.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *