Daftar Isi
Agar Menjadi Ahlus Sunnah yang Berkualitas
Menjadi Ahlus Sunnah wal Jama’ah (aswaja?) bukan hanya tentang memiliki pengetahuan teoretis, melainkan juga tentang kemampuan untuk mewujudkan keilmuannya dalam kehidupan sehari-hari. Ahlus Sunnah yang berkualitas harus memiliki aspek karakter, metode dakwah, dan standar keilmuan. Berikut adalah beberapa pilar yang wajib kita ketahui untuk menjadi Ahsus Sunnah yang berkualitas.
Tidak Asal Bunyi: Menjaga Lisan dalam Berbicara
Menjaga lisan adalah salah satu prinsip utama. Sebelum mengucapkan sesuatu, seseorang harus menimbang dengan matang: apakah ini benar? Apakah ini bermanfaat? Apakah ini pada tempatnya?
Allah berfirman,
“Tidak keluar dari mulut mereka sesuatu ucapan melainkan ada di sisinya malaikat pencatat yang selalu siap (mencatat).” [QS. Qaf: 18]
Rasulullah bersabda,
“Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berbicara yang baik atau diam.” [HR. Bukhari dan Muslim]
Ini mengajarkan bahwa lisan adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Tidak Terburu-buru Menyimpulkan: Verifikasi Sebelum Menyebar
Ketika menerima informasi, seorang Ahli Sunnah yang berkualitas seharusnya tidak langsung mempercayai atau menyebarkannya. Ia harus memverifikasi: apakah benar? Baru kemudian menimbang mana yang maslahat dan mana yang mudarat (merugikan).
Allah berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak mengenakan suatu kaum dengan suatu perbuatan yang mengakibatkan penyesalan, dengan karena tidak mengetahui keadaannya.” [QS. Al-Hujurat: 6]
Ini adalah perintah langsung untuk melakukan verifikasi sebelum bertindak.
Tidak Sombong dan Tidak Menghindar dari Kesalahan
Sifat rendah hati dan kesediaan untuk mengakui kesalahan merupakan ciri Ahlus Sunnah sejati. Mereka tidak menutup diri dari koreksi dan tidak menghindar ketika memang berbuat salah.
Allah berfirman,
“Dan janganlah kamu memalingkan pipimu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” [QS. Luqman: 18]
Rasulullah bersabda,
“Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan setipis biji sawi.” [HR. Muslim)
Membuka Diri terhadap Hal-Hal Kontemporer (Masa Kini)
Ahlus Sunnah yang berkualitas tidak terkunci dalam pemahaman lama dalam menindaklanjuti hal-hal yang baru muncul di masa kini. Mereka memahami konteks zaman, isu-isu kini, dan mampu memberikan solusi berbasis syariat dengan tetap menjaga prinsip-prinsip pokok.
Menjadi Penyambung Silaturahmi, Bukan Pengadu Domba
Dalam masyarakat, Ahlus Sunnah berkualitas berperan sebagai penyambung kasih sayang antarindividu dan antar kelompok, bukan malah menciptakan perpecahan dengan mengadu domba atau menyebarkan gosip.
Allah berfirman,
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan pembicaraan mereka, kecuali pembicaraan orang yang menyuruh (manusia) untuk bersedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mendamaikan antara manusia. Dan barangsiapa melakukan yang demikian karena mencari rida’a Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” [QS. An-Nisa: 114]
Rasulullah bersabda,
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” [HR. Ad-Daraquthni]
Belajar Dengan Memiliki Guru, Bukan Otodidak Semata
Jalur pembelajaran harus terstruktur melalui guru yang terpercaya. Otodidak sepenuhnya membuka peluang terjadinya kesalahan dan penyimpangan pemahaman yang besar.
Allah berfirman tentang Nabi Musa Alaihissalam dan Nabi Khidir Alaihissalam,
“Maka bertemu mereka berdua dengan seorang hamba dari hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat (pengetahuan) dari sisi Kami, dan telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” [QS. Al-Kahf: 65]
Ini menunjukkan pentingnya hubungan guru-murid dalam pembelajaran ilmu.
Ilmu yang Luwes dan Dapat Dibagikan kepada Masyarakat Umum
Ilmu tidak boleh bersifat kaku atau hanya dimiliki oleh segelintir orang. Ahlus Sunnah berkualitas mampu mengomunikasikan ilmu dengan cara yang mudah dipahami oleh berbagai kalangan tanpa mengurangi kedalaman maknanya.
Memperhatikan Metode Dakwah dan Skala Prioritas
Dakwah bukan sekadar menyampaikan pesan, melainkan strategi yang terukur. Ahlus Sunnah yang berkualitas memahami mana yang prioritas utama (dharuriyyat), sekunder (hajiyyat), dan tersier (tahsiniyyat). Mereka juga menyesuaikan metode dengan kondisi audiens.
Allah berfirman,
“Dengan kebijaksanaan dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu adalah Yang Paling Tahu tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Yang Paling Tahu tentang orang-orang yang mendapat petunjuk.” [QS. An-Nahl: 125]
Ilmu Alat Berkualitas: Al-Qur’an, Bahasa Arab, dan Disiplin Pendukung
Untuk memahami Islam secara mendalam, diperlukan alat-alat ilmu: pemahaman Al-Qur’an dengan tafsir yang akurat, penguasaan bahasa Arab untuk memahami nuansa teks, serta ilmu-ilmu pendukung lainnya (Hadis, Fiqih, Usul Fiqih, dll.).
Mencari Guru yang Berkualitas dengan Standar Tiga Hal
Tidak semua yang menyatakan diri sebagai guru adalah guru sejati. Guru berkualitas Ahlus Sunnah haruslah:
- Memiliki pemahaman yang benar (sesuai dengan manhaj Ahlus Sunnah)
- Memiliki standar kualitas yang tinggi dan konsisten
- Memiliki kemampuan memahamkan
Lima Hal yang Dijaga dalam Syariat
Tujuan utama syariat Islam (maqasid asy-syari’ah) adalah menjaga lima hal pokok:
- Agama (Ad-Din) | Menjaga pemahaman dan praktik agama dengan benar.
- Nyawa (An-Nafs) | Menjaga kehidupan dan kesehatan.
- Keturunan (An-Nasab) | Menjaga kesucian garis keturunan melalui institusi pernikahan.
- Akal (Al-Aql) | Menjaga perkembangan akal dan mencegah hal-hal yang merusaknya.
- Harta (Al-Mal) | Menjaga dan mengembangkan harta dengan cara yang halal dan bermanfaat.
Enam Hal yang Diperhatikan dalam Ibadah
Ibadah yang sempurna bukan hanya berdasarkan niat saja, melainkan memperhatikan enam aspek:
- Sebab (As-Sabab): Alasan dan dasar mengapa ibadah tersebut dilakukan
- Jumlah (Al-‘Adad): Jumlah atau takaran ibadah
- Tata Cara (Al-Kaifiyyah): Cara yang benar menurut hadis Rasulullah
- Waktu (Al-Waqt): Waktu yang tepat untuk melakukan ibadah
- Jenis (An-Nau’): Jenis ibadah yang dimaksud
- Tempat (Al-Makan): Tempat yang tepat untuk melakukan ibadah
(Baca Juga: Hanyalah Allah Rabb Semesta Alam)
Sarana dan Prasarana Dakwah Menunjang Kualitas Ilmu
Infrastruktur dan perangkat dakwah (masjid, pesantren, media, dll.) turut menunjang penyebaran ilmu yang berkualitas. Ahlus Sunnah yang berkualitas juga memperhatikan aspek praktis ini.
Sejarah menunjukkan bahwa Imam Malik mendirikan madrasah, Al-Azhar berdiri sebagai institusi pendidikan, dan seterusnya. Infrastruktur ini memudahkan penyebaran ilmu secara terstruktur.
Membedakan Mudarat dan Mudhalah
Ahlus Sunnah berkualitas mampu membedakan antara:
- Mudarat: Kerusakan atau bahaya nyata
- Mudhalah: Ketidakadilan atau pengabaian hak
Keduanya harus dihindari, namun prioritas penanganannya berbeda.
Amar Ma’ruf Nahi Mungkar dengan Keseimbangan
Perintah menyuruh yang baik dan melarang yang buruk adalah kewajiban, tetapi harus dijalankan dengan keseimbangan antara maslahat dan mudarat, serta hikmat dan metode yang tepat.
Allah berfirman,
“Hendaklah ada segolongan umat dari kamu yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” [QS. Ali Imran: 104]
Allah juga berfirman,
“Dengan kebijaksanaan dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…” [QS. An-Nahl: 125]
Metode Tasfiyyah dan Tarbiyyah
Ahlus Sunnah berkualitas memahami dua metode penting:
- Tasfiyyah (Pensucian): Membersihkan akidah dari bid’ah dan kesesatan
- Tarbiyyah (Pembinaan): Membangun karakter dan praktik yang sesuai syariat
Keduanya harus berjalan beriringan—tidak hanya membersihkan akidah tanpa membina karakter, atau sebaliknya.
Rasulullah memulai misinya dengan Tasfiyyah (pembersihan akidah dari kemusyrikan) di Makkah selama 13 tahun, kemudian Tarbiyyah (pembinaan umat) di Madinah selama 10 tahun.
Etika dalam Perbedaan Pendapat
Perbedaan pendapat dalam masalah ikhtilafiyyah (hal-hal yang ada khilaf) adalah perkara yang dibolehkan. Namun, Ahlus Sunnah yang berkualitas menjalankannya dengan etika yang tinggi: saling menghormati, tidak menuduh, dan tetap menjaga ukhuwah (persaudaraan).
Rasulullah bersabda,
“Berbedanya umatku adalah rahmat.” [HR. Ad-Daraquthni)
Namun, juga diingatkan untuk menjaga sopan santun dalam perbedaan.
Amanah Ilmiah: Integritas dan Tanggung Jawab Ilmuwan
Ilmuwan Ahlus Sunnah adalah penjaga amanah ilmu. Mereka:
- Tidak memanipulasi dalil demi kepentingan pribadi
- Jujur mengakui ketika tidak tahu
- Merujuk pada sumber yang tepat
- Bertanggung jawab atas setiap pernyataan
Allah berfirman,
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…” [QS. An-Nisa: 58]
Rasulullah bersabda,
“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” [HR. Bukhari dan Muslim)
Penutup
Menjadi Ahlus Sunnah yang berkualitas adalah perjalanan panjang yang memerlukan komitmen terhadap beberapa prinsip dan pilar di atas. Bukan hanya tentang memiliki ilmu, melainkan juga mengintegrasikannya dengan karakter, metode, dan dedikasi untuk menyebarkan Islam yang benar dengan cara yang bijak dan penuh hikmah.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang berkualitas.
Tulisan ini terinspirasi dari Kajian Ustadz Muflih Safitra di Masjid Jamilurrahman.
Wallahu A’lam Bi As-Sawab.
Image:
Ikuti kami di media sosial:





