Tawadhu – Dalam hidup ini, sering kali masalah muncul bukan karena besarnya persoalan, tetapi karena kerasnya hati.
Sedikit ego, sedikit merasa lebih tinggi, lalu percikan kecil berubah menjadi api yang membesar.
Padahal, salah satu kunci ketenangan yang Allah ajarkan adalah tawadhu—merendahkan hati, tidak meninggi, dan tidak menuntut dihormati.
Daftar Isi
Mengapa Banyak Masalah Berawal dari Hilangnya Tawadhu?
Para ulama menjelaskan: banyak konflik dalam rumah tangga, pekerjaan, dan pertemanan lahir dari kesombongan—rasa tidak mau mengalah, tidak mau mendengar, dan selalu ingin benar.
Rasulullah ﷺ bersabda,
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” [HR. Muslim, no. 2749]
Kesombongan yang sekecil itu saja dapat menghalangi seseorang dari surga—apalagi jika menjadi sifat yang terus dipelihara.
Karena itu, tawadhu bukan sekadar akhlak indah. Ia adalah penjaga harmoni.
Definisi Tawadhu Menurut Al-Qur’an, Sunnah, dan Ulama Salaf
Allah memuji hamba-hamba-Nya yang tawadhu:
“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati.” [QS Al-Furqan: 63]
Para mufassir menjelaskan:
“Rendah hati” di sini bukan lemah, tetapi tenang, tidak sombong, tidak merasa lebih dari manusia lain.
Dalam ayat lain, Allah memerintahkan:
“…dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua (orang tua) dengan penuh kasih sayang.” [QS Al-Isra: 24]
Jika kepada orang tua kita diminta merendah, maka kepada manusia lain pun kita dianjurkan untuk bersikap lembut dan tidak meninggi.
Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berkata,
“Tawadhu’ adalah tatkala engkau keluar dari rumahmu dan tidaklah engkau menjumpai seorang muslim pun kecuali engkau menganggap dia lebih utama dibandingkan dirimu.” [Al-Ihyaa’: III/28]
Inilah akhlak salaf: melihat kebaikan orang lain, bukan kekurangannya.
Dampak Tawadhu dalam Keluarga, Masyarakat, dan Kepemimpinan
Rumah tangga akan sulit bahagia jika salah satu merasa paling benar.
Pemimpin akan dijauhi jika wajahnya keras dan tutur katanya tinggi.
Allah berfirman:
“Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, niscaya mereka akan menjauh darimu.” [QS Ali-Imran: 159]
Tawadhu membuat suasana menjadi lembut:
Suami lembut kepada istrinya
Istri menghargai suaminya
Orang tua memaafkan anak
Pemimpin menundukkan hati kepada rakyatnya
Masyarakat pun menghormati pemimpinnya
Tawadhu menciptakan kedekatan yang tidak bisa dibeli dengan harta dan jabatan.
[Baca Juga: Kesabaran dalam Islam]
Tawadhu: Kunci Keharmonisan dan Hilangnya Permusuhan
Yang membuat hubungan menjadi hangat bukanlah banyaknya uang, bukan pula status tinggi—melainkan kerendahan hati yang membuat seseorang mudah:
Memaafkan
Mudah menerima masukan
Mengalah demi kebaikan
Memahami keadaan orang lain
Kesombongan membuat hati sempit, sedangkan tawadhu melapangkan dada.
Tidak heran bila tawadhu menjadi salah satu tanda penghuni surga.
Lawan dari Tawadhu: Kesombongan dan Bahayanya
Rasulullah ﷺ menjelaskan makna sombong dengan kata yang sangat jelas:
“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” [HR Muslim, No. 91]
Kesombongan itulah yang mengeluarkan Iblis dari surga ketika ia merasa lebih baik daripada Adam.
Maka siapa pun yang tidak mau menerima nasihat, tidak mau mengakui kesalahan, atau meremehkan orang lain, ia sedang menapak jalan yang sama—meski sedikit.
Tiga Bentuk Tawadhu Menurut Ulama Salaf
1. Tawadhu terhadap diri sendiri
Menyadari bahwa diri ini penuh kekurangan.
Tidak merasa paling pintar, paling benar, atau paling suci.
Iblis binasa karena merasa lebih tinggi.
2. Tawadhu dalam menuntut ilmu
Para ulama berkata:
“Ilmu tidak akan diperoleh oleh orang yang malu dan sombong.”
Hidayah itu seperti air:
Ia mengalir turun ke tempat yang rendah—ke hati yang merendah.
3. Tawadhu terhadap sesama manusia
Melihat orang yang lebih tua sebagai orang yang pahalanya lebih banyak.
Melihat yang lebih muda sebagai orang yang dosanya lebih sedikit.
Memperlakukan semua dengan kasih sayang.
Teladan Tawadhu dari Nabi Muhammad ﷺ
Rasulullah ﷺ adalah pemimpin para nabi, namun tetap merendah seperti manusia biasa.
Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan:
“Beliau menjahit bajunya sendiri dan membantu pekerjaan rumah.” [HR Bukhari]
Dalam sebuah majelis, beliau duduk sejajar dengan sahabat.
Sampai suatu hari seorang asing berkata, “Siapa di antara kalian Muhammad?”
Begitulah tawadhu:
Tidak mencari penghormatan, dan tidak merasa harus dikenal.
Penutup: Tawadhu Adalah Jalan Ke Surga
Kerendahan hati bukan tanda kelemahan—ia adalah tanda kemuliaan.
Allah meninggikan orang-orang yang merendahkan diri karena-Nya.
Dalam setiap interaksi, kita selalu punya pilihan:
meninggikan ego atau menundukkan hati.
Dan hati yang ditundukkan karena Allah-lah yang akan ditinggikan oleh Allah.
Semoga Allah menghiasi diri kita dengan akhlak tawadhu dan menjauhkan kita dari kesombongan sekecil apa pun.
Aamiin.
Referensi :
Image:






Pingback: 4 Perkara yang Termasuk Kebahagiaan - Hijrahdulu.com