Menjaga Lisan di Era Media Sosial: Nasihat Rasulullah untuk Generasi Hari ini

Menjaga Lisan Medsos

Subhanallah, dengan satu klik, kata-kata kita bisa tersebar ke seluruh dunia. Satu tweet, satu status, satu komen—dalam hitungan detik, ribuan orang bisa membacanya. Di zaman Rasulullah ﷺ, menjaga lisan adalah urusan mulut. Di zaman kita? Menjaga lisan juga urusan jari.

Allah ﷻ berfirman:

ا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidak ada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir (mencatatnya).” [QS. Qaf: 18]

Ayat ini tidak mengenal batas teknologi. Malaikat mencatat ucapan kita—baik yang keluar dari mulut, maupun yang kita ketik di keyboard.

Bahaya Lisan dalam Hadits Nabi

Jaminan Surga Bagi yang Menjaga Lisan

Rasulullah ﷺ bersabda:

نْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ
“Barangsiapa yang menjamin bagiku apa yang ada di antara dua rahangnya (lisan) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan), maka aku jaminkan baginya surga.” [HR. Bukhari no. 6474]

Lisan disebutkan sebelum kemaluan. Artinya? Menjaga lisan itu lebih sulit dan lebih urgent daripada yang kita kira.

Mayoritas Dosa Manusia dari Lisan

Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah ﷺ,

“Apakah kami akan dituntut atas apa yang kami ucapkan?”

Rasulullah ﷺ menjawab,

“Celaka engkau wahai Mu’adz! Tidakkah kebanyakan manusia dilemparkan ke neraka di atas wajah mereka—atau beliau katakan: di atas hidung mereka—kecuali karena hasil lisan mereka?” [HR. Tirmidzi no. 2616, dishahihkan Al-Albani]

Hasil lisan (hasho’idu alsinatihim) = apa yang “dipanen” dari lisan kita. Di zaman digital, panen itu dapat berlipat ganda.

Media Sosial: Amplifier Dosa Lisan

Satu Postingan, Ribuan Dosa

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,

“Setiap perkataan yang menyeru kepada kemaksiatan, maka pelakunya mendapat dosa setiap orang yang mengikutinya hingga hari kiamat.” [I’laamul Muwaqqi’in, 1/96]

Bayangkan:

  • Kamu posting ghibah (gosip/gunjingan) → 1.000 orang baca → 1.000 x dosa ghibah
  • Kamu share hoax → 500 orang percaya & forward → dosa berlipat setiap share
  • Kamu nyinyir di kolom komen → ratusan orang nge-like & ikutan nyinyir → dosa terus berjalan meski kamu sudah tidur

Rasulullah ﷺ bersabda:

نْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا
“Barangsiapa yang memulai kebiasaan buruk dalam Islam, maka ia menanggung dosanya dan dosa orang yang mengikutinya.” [HR. Muslim no. 1017]

Media sosial = mesin pengganda dosa.

(Baca Juga: Checklist Hijrah yang Sering Terlupakan)

5 Dosa Lisan yang Viral di Media Sosial

1. Ghibah (Menggunjing)

Allah ﷻ berfirman:

لَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ
“Dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik.” [QS. Al-Hujurat: 12]

Contoh di media sosial:

  • Screenshot chat orang lain terus di-share ke grup
  • Posting “Itu lho si A, kemarin aku lihat dia…”
  • Kolom komen yang bahas aib orang

Hukum: HARAM, meski yang kamu ceritakan FAKTA. Kalau bohong, maka tambah parah (namimah + fitnah).

2. Namimah (Adu Domba)

Rasulullah ﷺ bersabda,

ا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ
“Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.” [HR. Bukhari no. 6056 & Muslim no. 105]

Contoh di media sosial:

  • Forward chat A ke B dengan caption: “Coba deh liat nih, si A bilang kamu gini…”
  • DM rahasia: “Eh tau gak, tadi si B ngomongin kamu…”

Hukum: HARAM dan penghalang masuk surga.

3. Fitnah (Tuduhan Tanpa Bukti)

Allah ﷻ berfirman,

الَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا
“Dan orang-orang yang menyakiti orang mukmin dan mukminat tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” [QS. Al-Ahzab: 58]

Contoh di media sosial:

  • “Kayaknya dia korupsi deh…”
  • “Pasti dia punya affair…”
  • Asal nuduh tanpa bukti

Hukum: HARAM. Dosa besar. Bisa kena qadzaf (tuduhan zina tanpa 4 saksi) = 80 kali dera.

4. Istihza’ (Mengejek/Bully)

Allah ﷻ berfirman,

ا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok).” [QS. Al-Hujurat: 11]

Contoh di media sosial:

  • Meme yang nge-roast orang tertentu
  • Kolom komen: “Wkwkwk goblok banget sih lu”
  • Body shaming, judging penampakan orang

Hukum: HARAM. Termasuk mengejek fisik, profesi, atau kondisi seseorang.

5. Laghwu (Sia-Sia/Ngasal)

Allah ﷻ memuji orang beriman,

الَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ
“Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang sia-sia.” [QS. Al-Mu’minun: 3]

Contoh di media sosial:

  • Debat kusir di kolom komen tentang hal sepele
  • Spam emoji, spam tag, spam mention
  • Posting hal yang gak penting berkali-kali

Hukum: Makruh hingga haram (tergantung dampak). Buang-buang waktu = buang-buang umur.

Panduan Praktis: Menjaga Lisan di Media Sosial

Filter Sebelum Post: 3 Pertanyaan Wajib

Rasulullah ﷺ bersabda,

نْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” [HR. Bukhari no. 6018 & Muslim no. 47]

Sebelum post/komen/share, tanya:

  1. Apakah ini BENAR? (Cek sumber, jangan asal forward hoax)
  2. Apakah ini BAIK? (Manfaat apa yang didapat pembaca?)
  3. Apakah ini PERLU? (Kalau diam lebih baik, ya diam aja)

Kalau jawabnya TIDAK untuk salah satu, JANGAN POST.

Hapus, Bukan Edit

Kalau kamu sadar udah posting yang salah:

  • HAPUS, jangan cuma di-edit
  • MINTA MAAF secara terbuka (kalau menyangkut orang lain)
  • BERTAUBAT kepada Allah

Ingat hadits:

لتَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ
“Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak berdosa.” [HR. Ibnu Majah no. 4250, dishahihkan Al-Albani]

Unfollow/Mute yang Toxic

Rasulullah ﷺ bersabda,

لْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang itu mengikuti agama temannya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa yang ia jadikan teman.” [HR. Abu Dawud no. 4833 & Tirmidzi no. 2378, hasan]

Timeline kamu = lingkungan digital kamu.

Kalau followingan kamu penuh:

  • Ghibah & drama
  • Konten haram (aurat, maksiat)
  • Perpecahan & fitnah

Maka UNFOLLOW. Ini bukan sombong, ini menjaga iman.

Digital Detox = Sunnah

Rasulullah ﷺ bersabda,

نْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
“Termasuk kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” [HR. Tirmidzi no. 2317, hasan]

Praktik:

  • Hapus app media sosial dari HP (akses via browser aja)
  • Matikan notifikasi (kecuali yang urgent)
  • Set waktu: 30 menit/hari untuk sosmed (sisanya produktif)

Doa Sebelum & Sesudah Online

Sebelum buka sosmed:

للَّهُمَّ اجْعَلْ لِسَانِي رَطْبًا بِذِكْرِكَ
“Ya Allah, jadikanlah lisanku basah dengan dzikir kepada-Mu.”

Sesudah scrolling:

للَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.”

Penutup: Audit Digital Kita

Coba buka timeline media sosial kamu 6 bulan terakhir.

Tanya:

  • Berapa banyak postingan yang bermanfaat untuk akhirat?
  • Berapa banyak yang sia-sia?
  • Berapa banyak yang bisa jadi dosa?

Rasulullah ﷺ bersabda,

اَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ… وَعَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ
“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ditanya tentang empat perkara… dan tentang umurnya, untuk apa ia habiskan.” [HR. Tirmidzi no. 2417, shahih]

Media sosial = bagian dari umur kita.

Setiap scroll, setiap post, setiap komen—dicatat malaikat, ditanya di akhirat.

Wallahu a’lam bishawab.

 

Penulis:

  • Tim Hijrahdulu.com

Referensi:

  • Al-Quran Al-Karim
  • Shahih Bukhari & Muslim
  • Sunan Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah
  • Tafsir Ibnu Katsir
  • I’laamul Muwaqqi’in karya Ibnul Qayyim

Image:

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top