4 Perkara yang Termasuk Kebahagiaan

4 Kebahagiaan

Jangan–jangan semua kebahagiaan itu sebenarnya sudah ada di rumah. Jangan terlalu sibuk mencari sampai lupa menikmatinya. Banyak orang mengejar kedudukan, harta, pencapaian, dan kenyamanan hidup, namun tetap merasa gelisah. Setiap hari merasa kurang, seolah kebahagiaan itu selalu berada satu langkah di depan, tetapi tak pernah terjangkau.

Padahal Rasulullah telah menjelaskan bahwa sebagian kebahagiaan dunia bukanlah sesuatu yang jauh, mahal, atau rumit. Beliau menyebutkan empat perkara yang jika ada pada diri seseorang, maka ia telah mendapatkan bagian kebahagiaan dunia yang hakiki.

Rasulullah bersabda,

“Empat perkara yang termasuk kebahagiaan: istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman.” [HR. Ahmad, dinyatakan hasan oleh Al-Albani]

Mari kita renungkan satu per satu dengan hati yang tenang—karena bisa jadi Allah telah memberi kita salah satunya, atau bahkan semuanya, tetapi kita belum benar-benar mensyukurinya.

1. Istri yang Shalihah

Istri shalihah adalah nikmat yang sangat besar. Ia bukan hanya pendamping hidup, tetapi penjaga ketenangan rumah, penyejuk hati, dan penolong suami dalam ketaatan kepada Allah.

Para ulama salaf menyebutkan bahwa ciri wanita shalihah adalah:

  1. Taat kepada suami dalam hal yang ma’ruf, sebagaimana firman Allah:

    “Sebab itu maka wanita yang shalih adalah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada…” [QS. An-Nisa: 34]

  2. Qana’ah, menerima apa adanya dan tidak menuntut berlebihan.
  3. Menjaga kehormatan diri dan keluarga.
  4. Suka berdandan yakni; berhias untuk suami, bukan untuk orang lain.

Rasulullah ﷺ bersabda

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” [HR. Muslim]

Ini bukan sekadar pujian, tetapi pengingat bahwa kebahagiaan seorang laki-laki sangat dipengaruhi oleh pasangan yang shalihah.

Di antara kisah yang indah adalah nasihat seorang wanita salaf kepada suaminya sebelum ia keluar bekerja. Diceritakan bahwa ia berkata,

“Bertakwalah kepada Allah dalam memberi nafkah kepada kami. Sesungguhnya kami bisa bersabar dalam kekurangan, tetapi kami tidak bisa bersabar dari siksa Allah.”

Kata-kata ini menunjukkan betapa besarnya peran istri shalihah dalam menjaga ketenangan rumah, bukan lewat kemewahan, tetapi lewat iman, ketaatan, dan qana’ah.

Maka jika Allah menganugerahkan istri yang shalihah, itu adalah nikmat yang sangat besar—dan nikmat mana yang kamu dustakan?

2. Tempat Tinggal yang Luas

“Luas” bukan hanya ukuran fisik. Sebagian ulama menjelaskan bahwa maksud tempat tinggal yang luas adalah:

  1. Luas secara fisik, sehingga memberikan kenyamanan dalam beraktivitas.
  2. Luas secara ruh (jiwa), yaitu rumah yang penuh kelembutan, sakinah, dan jauh dari pertengkaran.

Rumah kecil tetapi penuh rahmat lebih luas bagi jiwa daripada rumah besar yang penuh keributan.

Allah berfirman,

“Dan Allah menjadikan bagi kalian rumah-rumah sebagai tempat tinggal.” [QS. An-Nahl: 80]

Rumah adalah tempat kembali, istirahat, dan ketenangan. Jika Allah memberi rumah yang luas dan nyaman, itu adalah karunia besar.

Di kalangan salaf, ada orang-orang yang rumahnya sederhana namun penuh ketakwaan. Meskipun kecil, penghuni rumah dan tamu sekalipun merasa nyaman karena rumah tersebut dipenuhi akhlak dan kelembutan. Keluasan hati menjadikan rumah mereka seakan luas tanpa batas.

Ini mengingatkan kita untuk tidak hanya menghiasi rumah dengan perabot, tetapi menghiasinya dengan kelembutan, adab, dan ketakwaan.

Mokapot Modifikasi
Mokapot Modifikasi

(Baca Juga: Tawadhu adalah Akhlak Penghuni Surga dan Penjaga Harmoni)

3. Tetangga yang Baik

Kebaikan tetangga adalah salah satu nikmat besar yang sering dilupakan. Tetangga buruk bisa membuat rumah yang luas terasa sempit, sedangkan tetangga yang baik bisa membuat rumah kecil terasa lapang.

Rasulullah bersabda,

“Jibril terus-menerus berwasiat kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga, hingga aku menyangka mereka akan diberi hak waris.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Dan beliau juga bersabda,

“Demi Allah, tidak beriman… orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” [HR. Bukhari]

Di kalangan para sahabat Nabi, terdapat sosok yang sangat terkenal dengan kepeduliannya kepada lingkungan sekitar: Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma. Setiap kali beliau menyembelih hewan, beliau selalu berpesan kepada keluarganya, “Berikan kepada tetangga kita terlebih dahulu.”

Kebaikan seperti ini membangun hubungan yang kuat—hingga tetangga terasa seperti keluarga sendiri.

Jika Allah menganugerahkan kita tetangga yang baik, maka itu adalah nikmat yang sangat besar. Maka berbaikanlah dengan mereka, memaafkanlah kekurangan mereka, dan berilah udzur atas setiap khilaf mereka.

4. Kendaraan yang Nyaman

Ulama mengatakan bahwa yang kendaraan nyaman yang dimaksud adalah kendaraan yang; memudahkan aktivitas, aman digunakan, tidak membuat lelah, dan membantu seseorang dalam ketaatan kepada Allah.

Tidak harus mewah, tidak harus mahal.

Zaman sekarang, “kendaraan nyaman” bisa berarti: motor yang tidak rewel, mobil yang aman untuk keluarga, atau bahkan sepeda yang memudahkan perjalanan harian.

Ini semua termasuk dalam definisi “nyaman,” selama memberikan kemudahan.

Maka siapa saja yang memiliki kendaraan yang layak pakai, aman, dan tidak membebani, ia telah memiliki salah satu kebahagiaan dunia..

Satu Saja dari Empat Ini Sudah Nikmat Besar

Tidak semua orang diberi empat-empatnya. Bahkan sebagian orang tidak diberi satu pun.

Maka jika Allah memberikan; istri yang shalihah, atau rumah yang luas, atau tetangga yang baik, atau kendaraan yang nyaman, maka itu sudah cukup menjadi alasan untuk bersyukur sepanjang hidup.

Allah berfirman,

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” [QS. Ar-Rahman]

Kesimpulan

Empat perkara ini adalah resep kebahagiaan dunia yang diajarkan Rasulullah:

  1. Istri yang shalihah
  2. Rumah yang luas
  3. Tetangga yang baik
  4. Kendaraan yang nyaman

Jika kita memiliki satu saja dari empat ini, itu sudah nikmat besar. Maka jangan terlalu sibuk mengejar apa yang belum ada sampai lupa mensyukuri apa yang sudah Allah beri.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang pandai bersyukur dan diberi kebahagiaan dunia serta akhirat. Aamiin.

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *